AFN V2

Aqidah

Apakah Allah Berhajat Atau Perlu Kepada Arsy?

User Rating: / 7
PoorBest 

Apakah Allah Berhajat Atau Perlu Kepada Arsy? at 10:26 AM

 

Assalamualaikum WBT.

Antara aqidah yang sahih dan benar ialah berkeyakinan bahawa Alah SWT berada di atas Arsy sebagaimana yang termaktub di dalam nas-nas Al-Quran dan al-Hadith.

Tentang dalil-dalilnya di akhir posting ini akan saya sertakan satu tulisan menarik dari Ustaz Abdul Hakim Abdat yang menerangkan dengan bagus isu ini.



Cumanya saya tertarik apabila terbaca satu nota kaki di dalam buku "Menjawab 17 Fitnah Terhadap Shaikh al-Islam Ibn Taimiyyah".

Ia merupakan satu jawapan ringkas dan mudah difahami kepada fitnah-fitnah yang dilemparkan pembela-pembela bid'ah yang cuba menuduh mereka yang menetapkan Allah berada di atas Arsy sebagai menyatakan bahawa Allah itu memerlukan kepada Arsy. Fitnah-fitnah dusta mereka inilah yang menyesatkan pemikiran umat Islam, apatah lagi pendidikan aqidah sejak di zaman sekolah teramatlah nipis. Maka umat Islam terpengaruh dengan dakyah songsang mereka ini yang berslogan dengan slogan "Allah Wujud Tidak Bertempat" ataupun "Allah Wujud Di Mana-Mana". Pemegang kedua-dua panji ini pula saling bertelingkah kerana setelah cuba menafikan Allah di atas Arsy, mereka bergaduh pula Allah ini bertempat atau di mana-mana.

Itulah keburukan apabila mempunyai keimanan yang bukan di ajar dari al-Quran dan as-Sunnah. Semua mahu mempunyai iman masing-masing tanpa merujuk apakah keimanan itu selari dengan keimanan yang di ajar oleh junjungan kita yang muliah Muhammad SAW.

Inilah petikan jawapan kepada pemfitnah dan pembela bid'ah:

Menjawab 17 Fitnah Terhadap Ibn Taimiah, ms 141-142, bahagian nota kaki.

Contoh: Jamal sedang membawa sebuah buku. Buku itu amat berhajat kepada Jamal kerana jika Jalam melepaskanya pasti buku itu akan jatuh. Aliran Jahmiyyah beri'tikad Allah berhajat kepada Arsy sebagaimana buku berhajat kepada Jamal. Seandainya Arsy tiada atau malaikat pembawanya tiada, pasti Allah akan terjatuh. Maha Suci Allah dari bersifat sedemikian.

Maka Utsman bin Said al-Darimi membantah iktikad al-Jahmiyyah dengan hujah bahawa Allah tidak berhajat kepada apa-apa jua daripada kalangan makhlukNya. Dalam bantahannya itu al-Darimi menggunakan nyamuk sebagai contoh perbandingan kerana ia adalah makhluk yang boleh terbang tetapi amat halus lagi lemah.

Justeru sama ada makhlukNya yang amat besar seperti Arsy atau makhlukNya yang amat kecil seperti nyamuk, Allah tidak berhajat kepada kedua-duanya . Sama ada makhlukNya amat kuat seperti malaikat pembawa Arsy atau makhlukNya yang amat lemah seperti nyamuk, Allah juga tetap tidak berhajat kepada kedua-duanya. Allah Maha Kaya, Dia tidak berhajatkan kepada apa-apa jua daripada kalangan makhlukNya. Sebaliknya makhluk-makhluk itulah, besar atau kecil, kuat atau lemah, yang berhajat kepadanya.

Shaikhul Islam al-Imam Ibn Taimiyah Rahimahullah telah menjelaskan lagi bahawa kafir sesiapa yang menyatakan bahawa Allah memerlukan atau berhajat kepada makhluk sebagaimana buku berhajat kepada orang yang memegangnya. Kata Ibn Taimiah Rhm:

"Sudah tentu menjadi kafir jika umat Islam mengatakan: "Sesungguhnya langit dan bumi meneduhi dan memayungiNya", kerana perkataan sedemikian menunjukkan Allah berhajat kepada makhlukNya (iaitu langit dan bumi). Maka sesiapa yang berkata "Sesungguhnya Allah Istiwa' di atas Arsy, (Allah) berhajat kepada Arsy seperti berhajatnya barang yang dibawa kepada pembawa, maka sesungguhnya dia kafir. Ini kerana Allah Maha Kaya (tidak berhajatkan) kepada apa-apa jua di alam ini. Allah Berdiri dengan sendiri, Dia Maha Kaya secara mutlaq dan tiadalah segala sesuatu (di alam ini melainkan) berhajat kepadaNya. (Majmu' al-Fatawa jld 2, ms 88, di nukil daripada Menjawab 17 Fitnah ke atas Ibn Taimiah, ms 141-142).

Wallahua'lam.

Di Mana Allah
Tulisan Ustad Abdul Hakim bin Amir Abdat

Saya akan menjelaskan salah satu aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang telah hilang dari dada sebagian kaum muslimin, yaitu : tentang istiwaa Allah di atas Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya. Sehingga bila kita bertanya kepada saudara kita ; Dimana Allah ? Kita akan mendapat dua jawaban yang bathil bahkan sebagiannya kufur..! :

1. Allah ada pada diri kita ini ..!
2. Allah dimana-mana di segala tempat !

Jawaban yang pertama berasal dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud Allah dengan manusia) yang telah dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu dan sekarang. Sedangkan jawaban yang kedua keluar dari kaum Jahmiyyah (faham yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan Mu’tazilah, serta mereka yang sefaham dengan keduanya dari ahlul bid’ah.

Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya :

”Beliau bertanya kepadanya : ”Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : ”Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : ”Siapakah Aku ..?. Jawab budak itu : ”Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : ”Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.

Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya :

1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
2. Imam Muslim (2/70-71)
3. Imam Abu Dawud (No. 930-931)
4. Imam Nasa’i (3/13-14)
5. Imam Ahmad (5/447, 448-449)
6. Imam Daarimi 91/353-354)
7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya ”Al-Muntaqa” (No. 212)
9. Imam Baihaqy di Kitabnya ”Sunanul Kubra” (2/249-250)
10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya ”Tauhid” (hal. 121-122)
11. Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albanni).
12. Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya ”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya ”As-Sunnah ” (No. 652).

PEMBAHASAN

Pertama.
Hadist ini merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga ahlul bid’ah dari kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah dan yang sefaham dengan mereka, yaitu ; dari kaum yang menyandarkan aqidah mereka kepada Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ary, yaitu ; mereka mempunyai i’tiqad (berpendapat) :

”ALLAH BERADA DI TIAP-TIAP TEMPAT ATAU ALLAH BERADA DIMANA-MANA .!?”

Katakanlah kepada mereka : Jika demikian, yakni Allah berada dimana-mana tempat, maka Allah berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat kotor dan berada di bawah mahluknya !?.

Jawablah kepada mereka dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Maha suci Engkau ! ini adalah satu dusta yang sangat besar” (An-Nur : 16)

”Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan ” (Al-Mu’minun : 91)

”Maha Suci Dia ! Dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar”. (Al-Isra : 43)

Berkata Imam Adz-Dzahabi setelah membawakan hadits ini, di kitabnya ”Al-Uluw” (hal : 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
Artinya :

”Dan demikian ra’yu kami (setuju dengan hadits) setiap orang yang ditanya : ”Dimana Allah ? ”Dia segera dengan fitrahnya menjawab : Di atas langit !. Didalam hadits ini ada dua masalah : pertama : Disyariatkan pertanyaan seorang muslim : Dimana Allah ?. Kedua : Jawaban orang yang ditanya : (Allah) di atas langit ! Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini berarti ia telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi) SAW”.

Dan telah berkata Imam Ad-Daarimi setelah membawakan hadits ini di kitabnya ”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah (hal: 39): ”Di dalam hadits Rasulullah SAW ini, ada dalil bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas langit bukan bumi, tidaklah ia seorang mu’min”.

Tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan tanda/alamat keimanannya (yaitu budak perempuan) tentang pengetahuannya sesungguhnya Allah diatas langit. Dan pada pertanyaan Rasulullah SAW (kepada budak perempuan): ”Dimana Allah ?”. Mendustakan perkataan orang yang mengatakan : ”Dia (Allah) ada di tiap-tiap tempat (dan) tidak boleh disifatkan dengan (pertanyaan) : Dimana .?

Kedua
Lafadz ‘As-Samaa” menurut lughoh/bahasa Arab artinya : Setiap yang tinggi dan berada di atas. Berkata Az-Zujaaj (seorang Imam ahli bahasa) :
Artinya :

”(Lafadz) As-Samaa/langit di dalam bahasa dikatakan : Bagi tiap-tiap yang tinggi dan berada diatas. Dikatakan : Atap rumah langit-langit rumah”.

Dinamakan ”Awan” itu langit/As-Samaa, karena ia berada di atas manusia. Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Dan Ia turunkan dari langit Air (hujan)” (Al-Baqarah : 22).

Adapun huruf ”Fii” dalam lafadz hadits ”Fiis-Samaa” bermakna ” ‘Alaa” seperti firman Allah ‘Azza wa Jalla:
Artinya :

”Maka berjalanlah kamu di atas/di muka bumi” (At-Taubah : 2)

”Mereka tersesat di muka bumi” (Al-Ma’dah : 26).

Lafadz ”Fil Arldhii” dalam dua ayat diatas maknanya ” ‘Alal Arldhii”, Maksudnya : Allah ‘Azza wa Jalla berada dipihak/diarah yang tinggi -di atas langit- yakni di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Ia tidak serupa dengan satupun mahluk-Nya dan tidak satupun mahluk menyerupai-Nya.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Ia-lah yang Maha Mendengar (dan) Maha Melihat”. (As-Syura : 4)

”Dan tidak ada satupun yang sama/sebanding dengan-Nya” (Al-ikhlas : 4)

”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (bersemayam)”. (Thaha : 5)

”Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.(Al-A’raf :54).

Madzhab Salaf -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri, mereka semuanya beriman bahwa ; Allah ‘Azza wa Jalla ISTIWAA diatas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Mereka tidak menta’wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya : Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan ”Allah istiwaa di atas ‘Arsy” itu maknanya : Allah menguasai ‘Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, karena Allah berada dimana-mana tempat !?… Mereka ini telah merubah perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat Al-baqarah : 58-59).

Katakan kepada mereka : Kalau makna istiwaa itu adalah istawla/berkuasa, maka Allah ‘Azza wa Jalla berkuasa atas segala sesuatu bukan hanya menguasai ‘Arsy. Ia menguasi langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya dan sekalian mahluk (selain Allah dinamakan mahluk). Allah ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang istawaa-Nya diatas ‘Arsy-Nya dalam tujuh tempat di dalam kitab-Nya Al-Qur’an. Dan semuanya dengan lafadz ”istawaa”. Ini menjadi dalil yang sangat besar bahwa yang dikehendaki dengan istawaa ialah secara hakekat, bukan ”istawla” dengan jalan menta’wilnya.

Telah berfirman Allah ‘Azza wa Jalla di Muhkam Tanzil-Nya.
Artinya :

”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istawaa” (Thaha : 5)

”Kemudian Ia istawaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.

Pada enam tempat. Ia berfirman di kitab-Nya yaitu :

1. Surat Al-A’raf ayat 54
2. Surat Yunus ayat 3
3. Surat Ar-Ra’du ayat 2
4. Surat Al-Furqaan ayat 59
5. Surat As-Sajdah ayat 4
6. Surat Al-Hadid ayat 4

Menurut lughoh/bahasa, apabila fi’il istiwaa dimuta’adikan oleh huruf ‘Ala, tidak dapat dipahami/diartikan lain kecuali berada diatasnya.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Dan berhentilah kapal (Nuh) diatas gunung/bukit Judi” (Hud : 44).

Di ayat ini fi’il ”istawaa” dimuta’addikan oleh huruf ‘Ala yang tidak dapat dipahami dan diartikan kecuali kapal Nabi Nuh AS secara hakekat betul-betul berlabuh/berhenti diatas gunung Judi. Dapatkah kita artikan bahwa ”Kapal Nabi Nuh menguasai gunung Judi” yakni menta’wil lafadz ”istawat” dengan lafadz ”istawlat” yang berada di tempat yang lain bukan di atas gunung Judi..? (yang sama dengan ayat di atas, baca surat Az-Zukhruf : 13).

Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas).
Artinya :

”Ia istawaa (bersemayam) di atas ”Arsy” maknanya :

”Ia berada tinggi di atas ”Arsy”

(Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di kitabnya ”At-Tauhid” (hal: 101):
Artinya :

”Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa A’laa (yang Maha Besar dan Maha tinggi) sesungguhnya pencipta kami (Allah) Ia istiwaa di atas ‘Arsy-Nya. Kami tidak akan mengganti/mengubah Kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagimana (kaum) Jahmiyyah yang menghilangkan sifat-sifat Allah, dengan mengatakan ”Sesungguhnya Ia (Allah) istawla (menguasai) ‘Arsy-Nya tidak istawaa!”. Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka seperti perbuatan Yahudi tatkala mereka diperintah mengucapkan : ”Hith-thatun (ampunkanlah dosa-dosa kami)” Tetapi mereka mengucapkan : ”Hinthah (gandum).?”. Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah yang Maha Besar dan Maha tinggi, begitu pula dengan (kaum) Jahmiyyah”.

Yakni, Allah telah menegaskan pada tujuh tempat di kitab-Nya yang mulia, bahwa Ia istiwaa di atas ‘Arsy-Nya (Dzat Allah istiwaa/bersemayam di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, sedangkan ilmu-Nya berada dimana-mana/tiap-tiap tempat tidak satupun tersembunyi dari pengetahuan-Nya). Kemudian datanglah kaum Jahmiyyah mengubah firman Allah istawaa dengan istawla yakni menguasai ‘Arsy sedangkan Dzat Allah berada dimana-mana/tiap-tiap tempat !!!. Maha Suci Allah dari apa-apa yang disifatkan kaum Jahmiyyah !

Adapun madzhab Salaf, mereka telah beriman dengan menetapkan (istbat) sesungguhnya Allah Azza wa Jalla istiwaa -dan bukan istawla- di atas ‘Arsy-Nya tanpa :

1. Tahrif yakni ; Merubah lafadz atau artinya.
2. Ta’wil yakni ; Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
3. Ta’thil yakni ; Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian maupun secara keseluruhannya.
4. Tasybih yakni ; Menyerupakan Allah dengan mahluk.
5. Takyif yakni ; Bertanya dengan pertanyaan : Bagaimana (caranya) ?

Alangkah bagusnya jawaban Imam Malik ketika beliau ditanya :
”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy ?. Beliau menjawab :
Artinya :

”Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid’ah”.

(baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46).

Perhatikan !

1. ‘Arsy adalah mahluk Allah yang paling tinggi berada diatas tujuh langit dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas :
Artinya :

”Dan ‘Arsy tidak seorangpun dapat mengukur berapa besarnya”.

Berkata Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” (hal : 102) : rawi-rawinya tsiqaat (terpercaya).

Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan : Sanadnya shahih semua riwayatnya tsiqaat. (dikeluarkan oleh Imam ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid”).

2. Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla -istiwaa-Nya di atas ‘Arsy- tidak tergantung kepada ‘Arsy. Bahkan sekalian mahluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Azza wa Jalla.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”.

Ketiga
Penunjukan Beberapa Dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang Shahih.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?” (Al-Mulk : 16)

”Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit bahwa Ia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil ? Maka kamu akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku”. (Al-Mulk : 17).

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -setelah membawakan dua ayat di atas di kitabnya ”At-Tauhid” (hal : 115).
Artinya :

”Bukankah Ia telah memberitahukan kepada kita -wahai orang yang berakal- yaitu ; apa yang ada diantara keduanya sesungguhnya Ia di atas langit”.

Berkata Imam Abul Hasan Al-Asy’ary di kitabnya ”Al-Ibanah Fi Ushulid-diayaanah hal : 4 setelah membawakan ayat di atas : ”Di atas langit-langit itu adalah ‘Arsy, maka tatkala ‘Arsy berada di atas langit-langit. Ia berfirman : ”Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang berada di atas langit ?” Karena sesungguhnya Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy yang berada di atas langit, dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan ‘As-Samaa” (langit), maka ‘Arsy berada di atas langit. Bukankah yang dimaksud apabila Ia berfirman : ”Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang diatas langit ?” yakni seluruh langit ! Tetapi yang Ia kehendaki adalah ‘Arsy yang berada di atas langit”.

Saya berpandangan (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dua ayat di atas sangat tegas sekali yang tidak dapat dibantah dan ta’wil bahwa lafadz ”MAN” tidak mungkin difahami selain dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan Malaikat-Nya sebagaimana dikatakan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengannya, yang telah merubah firman Allah ‘Azza wa Jalla. Bukankah dlamir (kata ganti) pada fi’il (kata kerja) ”yakhtsif” (Ia menenggelamkan) dan ”yartsil” (Ia mengirim) adalah ”huwa” (Dia) ? siapakah Dia itu kalau bukan Allah ‘Azza wa Jalla.

Firman Allah :
Artinya :

”Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”. (An-Nahl : 50).

Ayat ini tegas sekali menyatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas bukan di mana-mana tempat. Karena lafadz ”fawqo” (di atas) apabila di majrur dengan huruf ”min” dalam bahasa Arab menunjukan akan ketinggian tempat. Dan tidak dapat di ta’wil dengan ketinggian martabat, sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Alangkah zhalimnya mereka ini yang selalu merubah-rubah firman Tuhan kita Allah Jalla Jalaa Luhu.

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid” (hal : 111): ”Tidaklah kalian mendengar firman pencipta kita ‘Azza wa Jalla yang mensifatkan diri-Nya.
Artinya :

”Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya”. (Al-An’am : 18 & 61).

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut : ”Tidakkah kalian mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa bin Maryam :
Artinya :

”Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55)

Ibnu Khuzaimah menerangkan : Bukankah ”mengangkat” sesuatu itu dari bawah ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah!. Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).

Karena ”Ar-raf’ah” = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka kita diajas berbicara (yakni Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas” (kitab At-Tauhid : 111).

Sekarang dengarlah wahai orang yang berakal, kisah Fir’aun bersama Nabi Allah Musa ‘Alaihis Salam di dalam kitab-Nya yang mulia, dimana Fir’aun telah mendustakan Musa yang telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit :
Artinya :

”Dan berkata Fir’aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).

Perhatikanlah wahai orang yang berakal!. Perintah Fir’aun kepada Haman -menterinya- untuk membuatkan satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa Tuhannya -Allah Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit-.

Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya ada dimana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Fir’aun yang disebabkan karena kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israil, di pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan di barat !?. Tetapi tatkala Nabi Musa dengan perkataannya: ”Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta !”. Yakni tentang perkataan Musa bahwa Tuhannya di atas langit.

Perhatikanlah, wahai orang yang berakal !. Keadaan Fir’aun yang mendustakan Nabi Musa dengan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka yang telah merubah firman Allah dengan mengatakan : Allah ada di segala tempat !.

Ketahuilah ! Bahwa pemahaman di atas bukanklah hasil dari pikiran saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) tetapi pemahaman Ulama-ulama kita diantaranya :

1. Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid” (hal : 114-115) diantara keterangannya :”Perkataan Fir’aun (sesungguhnya aku menyangka/mengira ia termasuk dari orang-orang yang berdusta) terdapat dalil bahwa Musa telah memberitahukan kepada Fir’aun :” Bahwa Tuhannya Yang Maha Besar dan Maha Tinggi berada di tempat yang tinggi dan di atas”.
2. Berkata Imam Al-Asy’ary setelah membawakan ayat di atas : ”Fir’aun telah mendustakan Musa tentang perkataannya : Sesungguhnya Allah di atas langit” (Al-Ibanah : 48).
3. Berkata Imam Ad-Daarimi di kitabnya ”Raddu ‘Alal Jahmiyyah hal : 37 Setelah membawakan ayat di atas : ” Di dalam ayat ini terdapat keterangan yang sangat jelas dan dalil yang nyata, bahwa Musa telah mengajak Fir’aun mengenal Allah bahwa Ia berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun memerintahkan membuat bangunan yang tinggi”.
4. Berkata Syaikhul Islam Al-Imam As-Shaabuny di kitabnya ”Itiqad Ahlus Sunnah wa Ashabul Hadits wal A’imah ” (hal : 15) : ”Bahwasanya Fir’aun mengatakan demikian (yakni menuduh Musa berdusta) karena ia telah mendengar Musa AS menerangkan bahwa Tuhannya berada diatas langit. Tidakkah engkau perhatikan perkataannya : ”Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta” yakni tentang perkataan Musa : ”Sesungguhnya di atas langit ada Tuhan”.
5. Imam Abu Abdillah Haarits bin Ismail Al-Muhaasiby diantara keterangannya :”Berkata Fir’aun : (Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta) tentang apa yang ia (Musa) katakan kepadaku : ”Sesungguhnya Tuhannya berada di atas langit”. Kemudian beliau menerangkan : ”Kalau sekiranya Musa mengatakan : ”Sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap tempat dengan Dzatnya, nisacaya Fir’aun akan mencari di rumahnya, atau di hadapannya atau ia merasakannya, -Maha Tinggi Allah dari yang demikian- tentu Fir’aun tidak akan menyusahkan dirinya membuat bangunan yang tinggi”. (Fatwa Hamawiyyah Kubra : 73).
6. Berkata Imam Ibnu Abdil Bar : ”Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan (kepada Fir’aun) : ”Tuhanku di atas langit ! sedangkan Fir’aun menuduhnya berdusta”. (baca Ijtimaaul Juyusy Al-Islamiyyah hal : 80).
7. Berkata Imam Al-Waasithi di kitabnya ”An-Nahihah fi Shifatir Rabbi Jalla wa ‘Alaa” (hal : 23 cetakan ke-3 th 1982 Maktab Al-Islamy) : ”Dan ini menunjukkan bahwa Musa telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya yang Maha Tinggi berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun berkata : ”Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta”.

Demikianlah penjelasan dari tujuh Imam besar di dalam Islam tentang ayat di atas, selain masih banyak lagi yang kesimpulannya : ”Bahwa mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit di atas ‘Arsy-Nya, Ia istiwaa (bersemayam) yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, adalah ; sunnahnya Fir’aun”. Na’udzu billah !!.

Sampai disini pembahasan beberapa dalil dari kitab Allah -salain masih banyak lagi- yang cukup untuk diambil pelajaran bagi mereka yang ingin mempelajarinya. Firman Allah Subahanhu wa Ta’ala.
Artinya :

”Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan !” (Al-Hasyr : 2).

Adapun dalil-dalil dari hadits Nabi SAW banyak sekali. Dibawah ini akan disebutkan beberapa diantaranya :
Nabi kita SAW telah bersabda :
Artinya :

”Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih dikitabnya ”Silsilah Shahihah No. 925”.

”Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang dimuka bumi, niscaya tidak akan di sayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Mu’jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 83 diringkas oleh Al-Albani) mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

”Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

”Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya ”.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).

Keterangan :

”Dzat yang di atas langit yakni Allah ‘Azza wa Jalla (perhatikan empat hadits diatas)”.

”Silih berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat siang dan mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian naik malaikat yang bermalam dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya kepada mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka : ”Bagaimana (keadaan mereka) sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku ? Mereka menjawab : ”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka dalam keadaan shalat”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari 1/139 dan Muslim 2/113 dll).

Keterangan :

”Sabda Nabi SAW : ”Kemudian NAIK Malaikat-malaikat yang bermalam …dst” Menunjukan bahwa Pencipta kita Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas. Hal ini juga menunjukan betapa rusaknya pikiran dan fitrahnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Pencipta kita, tidak berada di atas tetapi di segala tempat ? Maha Suci Allah ! Dan Maha Tinggi Allah dari segala ucapan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka !.

”Jabir bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi SAW di padang ‘Arafah : ”(Jabir menerangkan) : Lalu Nabi SAW mengangkat jari telunjuknya ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada manusia, (kemudian beliau berdo’a) : ”Ya Allah saksikanlah ! Ya Allah saksikanlah ! ( Riwayat Imam Muslim 4/41).

Sungguh hadits ini merupakan tamparan yang pedas di muka-muka kaum Ahlul Bid’ah yang selalu melarang kaum muslimin berisyarat dengan jarinya ke arah langit. Mereka berkata : Kami khawatir orang-orang akan mempunyai i’tiqad bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit ! Padahal Allah tidak bertempat tetapi Ia berada di segala tempat !?.

Demikianlah kekhawatiran yang dimaksudkan syaithan ke dalam hati ketua-ketua mereka. Yang pada hakekatnya mereka ini telah membodohi Nabi SAW yang telah mengisyaratkan jari beliau ke arah langit.

Perhatikanlah perkataan mereka : ”Allah tidak bertempat tetapi Ia berada di segala tempat !?”

Perhatikanlah ! Adakah akal yang shahih dan fitrah yang bersih dapat menerima dan mengerti perkataan di atas !?.

Mereka mengatakan Allah tidak bertempat karena akan menyerupai dengan mahluk-Nya. Tetapi pada saat yang sama mereka tetapkan bahwa Allah berada disegala tempat atau dimana-mana tempat !?.

Ya Subhanallah !
Artinya :

”Dari Ibnu Abbas (ia berkata) : ” Bahwa Rasulullah SAW berkhotbah kepada manusia pada hari Nahr (tgl. 10 Zulhijah) -kemudian Ibnu Abbas menyebutkan khotbah Nabi SAW- kemudian beliau mengangkat kepalanya (ke langit) sambil mengucapkan : Ya Allah bukankah Aku telah menyampaikan ! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan !. (Riawayat Imam Bukhari Juz 2 hal : 191).

Perhatikan wahai orang yang berakal ! Perbuatan Rasulullah SAW mengangkat kepalanya ke langit mengucapkan : Ya Allah !.

Rasulullah SAW menyeru kepada Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy di atas sekalian mahluk-Nya. Kemudian perhatikanlah kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada di segala tempat, dibawah mahluk, di jalan-jalan, di tempat-tempat yang kotor, dan di perut-perut hewan !?

Maha Suci Allah ! Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sama dengan mereka !.
Artinya :

”Dari Aisyah, ia berkata : ”Nabi SAW mengangkat kepalanya ke langit. (Riwayat Imam Bukhari 7/122).

Keempat
Keterangan Para Sahabat Nabi SAW, dan Ulama-Ulama Islam.

Adapun keterangan dari para sahabat Nabi SAW, dan Imam-imam kita serta para Ulama dalam masalah ini sangat banyak sekali, yang tidak mungkin kami turunkan satu persatu dalam risalah kecil ini, kecuali beberapa diantaranya.

1. Umar bin Khatab pernah mengatakan :
Artinya :

”Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit ” [Imam Dzahabi di kitabnya ''Al-Uluw'' hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)].

2. Ibnu Mas’ud berkata :
Artinya :

”’Arsy itu diatas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”.

Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Al-Mu’jam Kabir” No. 8987. dan lain-lain Imam.

Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 103 berkata : sanadnya shahih,dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini di kitab Al-Uluw).

Tentang ‘Arsy Allah di atas air ada firman Allah ‘Azza wa Jalla.

”Dan adalah ‘Arsy-Nya itu di atas air” (Hud : 7)

3. Anas bin Malik menerangkan :
Artinya :

”Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : ”Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”.

Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan :

”Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit”. (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176). Yakni perkawinan Nabi SAW dengan Zainab binti Jahsyin langsung Allah Ta’ala yang menikahinya dari atas ‘Arsy-Nya.

Firman Allah di dalam surat Al-Ahzab : 57

”Kami kawinkan engkau dengannya (yakni Zainab)”.

4. Imam Abu Hanifah berkata :
Artinya :

”Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir”.

Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan ”aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi”. Berkata Imam Abu Hanifah : ”Sesungguhnya dia telah ‘Kafir !”. Karena Allah telah berfirman : ”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa”. Yakni : Abu Hanifah telah mengkafirkan orang yang mengingkari atau tidak tahu bahwa Allah istiwaa diatas ‘Arsy-Nya.

5. Imam Malik bin Anas telah berkata :
Artinya :

”Allah berada di atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya”.

6. Imam Asy-Syafi’iy telah berkata :
Artinya :

”Dan sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya”

7. Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : ”Allah di atas tujuh langit diatas ‘Arsy-
Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat .?

Jawab Imam Ahmad :
Artinya :

”Benar ! Allah di atas ‘Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya”.

8. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : ”Apa perkataan Ahlul Jannah ?”.
Beliau menjawab :
Artinya :

”Mereka beriman dengan ru’yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu’minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa”.

9. Imam Tirmidzi telah berkata :
Artinya :

”Telah berkata ahli ilmu : ”Dan Ia (Allah) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya”.

(Baca : ”Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137,140,179,188,189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51,52,53,54 dan 57).

10. Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- :
Artinya :

”Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”.

(Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah ”Ulumul Hadits” hal : 84).

11. Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- :

”Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :” Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya) :”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).

Yakni : Kita wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala istiwaa di atas ‘Arsy-Nya yang menunjukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas sekalian mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan : ”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?”. Karena yang demikian tidak dapat kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain Imam. Allah istiwaa sesuai dengan kebesaran-Nya tidak serupa dengan istiwaanya mahluk sebagaiamana kita meniadakan pertanyaan : Bagaimana Dzatnya Allah ?.

Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di Indonesia, di sembah-sembah dijadikan berhala oleh penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh. Kalau sekiranya Imam kita ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan ”tawasul”, tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepaas diri dari qaum musyrikin tersebut.
Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’un !!.

Kelima

Kesimpulan

Hadits Jariyah (budak perempuan) ini bersama hadits-hadits yang lain yang sangat banyak dan berpuluh-puluh ayat Al-Qur’an dengan tegas dan terang menyatakan : ”Sesungguhnya Pencipta kita Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya”. Maha Suci Allah dari menyerupai mahluk-Nya.!.

Dan Maha Suci Allah dari ta’wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana tempat !??.

Dapatlah kami simpulkan sebagai berikut :

1. Sesungguhnya bertanya dengan pertanyaan : ”Dimana Allah ?, disyariatkan dan penanya telah mengikuti Rasulullah SAW.
2. Wajib menjawab : ”Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas ‘Arsy”. Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas ‘Arsy. Jawaban ini membuktikan keimanannya sebagi mu’min atau mu’minah. Sebagaimana Nabi SAW, telah menyatakan keimanan budak perempuan, karena jawabannya : Allah di atas langit !.
3. Wajib mengi’tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya.
4. Barangsiapa yang mengingkari wujud Allah di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir.
5. Barangsiapa yang tidak membolehkan bertanya : Dimana Allah ? maka sesunguhnya ia telah menjadikan dirinya lebih pandai dari Rasulullah SAW, bahkan lebih pandai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzu billah.
6. Barangsiapa yang tidak menjawab : Sesungguhnya Allah di atas langit, maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.
7. Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa bertanya :”Dimana Allah ?” akan menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh Rasulullah SAW jahil/bodoh !. Na’udzu billah !
8. Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa Allah berada dimana-mana tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.
9. Barangsiapa yang tidak mengetahui dimana Tuhannya, maka bukankah ia penyembah Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada ‘’sesuatu yang tidak ada”.
10. Ketahuilah ! Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun dalil naqli, telah datang berpuluh ayat Al-Qur’an dan hadits yang mencapai derajat mutawatir. Demikian juga keterangan Imam-imam dan Ulama-ulama Islam, bahkan telah terjadi ijma’ diantara mereka kecuali kaum ahlul bid’ah. Sedangkan dalil aqli yang sederhanapun akan menolak jika dikatakan bahwa Allah berada di segala tempat !. Adapun fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia -baik muslim atau kafir- berdo’a khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka angkat kepala-kepala mereka ke langit sambil mengucapkan ‘Ya … Tuhan..!. Manusia dengan fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang tinggi, di atas sekalian mahluk-Nya yakni di atas ‘Arsy-Nya. Bahkan fitrah ini terdapat juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini kecuali orang yang telah rusak fitrahnya.

Tambahan

Sebagian ikhwan telah bertanya kepada saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) tentang ayat :

Artinya :

”Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan ”. (Al-An’am : 3)

Saya jawab : Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir mengingkari kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan :

”Innahu Fii Qulli Makaan”

”Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat !”.

Maha Suci Allah dari perktaan kaum Jahmiyyah ini !

Adapun maksud ayat ini ialah :

1. Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
2. Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang dilangit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia.

Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Artinya :

”Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui”. (Az-Zukhruf : 84)

Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).

Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala tempat!. Sebagaimana ta’wilnya kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang ”diam” Tidak tahu Allah ada di mana !.

Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi serta keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (A-Zukhruf : 84) menerangkan : ”Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : ”Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand”, padahal ia berada di satu tempat”. Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata ”Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung”. Sedangkan ia berada di satu tempat.Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 73).

Adapun orang yang ”diam” (tawaqquf) dengan mengatakan : ”Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan !. Allah Rabbul ‘Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu ”diam” darinya dengan ucapan ”kita tidak tahu” nyata telah berpaling dari maksud Allah. Pantaslah kalau Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama seperti orang yang menta’wilnya.

Dikirim ulang oleh Tami untuk Jilbab Online
Sumber : Jilbab.or.id

Tiada Kesialan Pada Bulan Safar

User Rating: / 16
PoorBest 

Oleh: Mohd Yaakub bin Mohd Yunus
Sumber: http://akob73.blogspot.com

Tiada Kesialan Pada Bulan Safar


Masyarakat Arab pada zaman jahiliyah iaitu sebelum kedatangan agama Islam sememangnya terkenal dengan amalan-amalan yang bercanggah dengan syarak. Perjalanan kehidupan seharian mereka sentiasa dibayangi oleh amalan-amalan syirik, tahyul dan khurafat. Sebagai contoh sekiranya mereka ingin memulakan perjalanan mereka akan melihat gerakan-gerakan sesetengah jenis binatang seperti burung mahupun busur panah yang dilepaskan sama ada ke kiri atau ke kanan. Mereka beranggapan arah gerakan tersebut boleh mempengaruhi keburukan atau kebaikan yang mungkin akan dihadapi dalam perjalanan tersebut. Sekiranya pada tanggapan mereka gerakan tersebut menunjukkan alamat yang tidak baik maka mereka membatalkan hasrat untuk meneruskan perjalanan tersebut. Perkara sebegini disebutkan tathayyur atau meramalkan sesuatu kejadian yang buruk disebabkan oleh sesuatu perkara. Sebagai contohnya Imam al-Syafi’i r.h pernah berkata:

Dahulu golongan jahiliyah apabila ingin bermusafir akan mengambil burung dan melepaskannya ke udara. Sekiranya ia terbang ke kanan maka mereka pun keluar atas tanggapan tuah tersebut. Jika ia terbang ke kiri atau ke belakang, maka mereka akan menganggap sial lalu berpatah balik. Maka apabila Nabi s.a.w. diutuskan, baginda menyeru orang ramai: “Kekalkan burung pada sarangnya.” – Riwayat Abu Nu’aim al-Asfahani di dalam Hilyah al-Auliya’

Islam menyelar budaya tathayyur ini dan menganggap ianya merupakan satu perbuatan yang mencemar kemurniaan tauhid kerana ketergantungan hati seseorang kepada sesuatu perkara selain daripada Allah S.W.T. dengan menyakini perkara tersebut boleh membawa mudharat atau manfaat kepada kita. Islam meletakkan kejadian sesuatu perkara itu bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Allah S.W.T semata-mata. Firman-Nya:

Katakanlah (wahai Muhammad): "Tidak sekali-kali akan menimpa kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia lah Pelindung yang menyelamatkan kami, dan (dengan kepercayaan itu) maka kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal". – al-Taubah (9) : 51

Menyandarkan sesuatu musibah bakal menimpa terhadap kerana sesuatu perkara seperti gerakan binatang, kedudukan bintang, waktu atau masa yang tertentu dan lain-lain adalah perbuatan yang tercela kerana segala sesuatu itu ditetapkan oleh Allah S.W.T. tanpa ada faktor lain yang mempengaruhi keputusan-Nya. Firman Allah S.W.T.:

Ketahuilah, sesungguhnya nahas dan malang mereka itu hanya di tetapkan di sisi Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. – al-A’raaf (7) : 131

Oleh itu bagi sesiapa yang membuat sesuatu keputusan berdasarkan tathayyur maka dia telah terjebak dalam lembah kesyirikkan.

Daripada ‘Abdullah ibnu ‘Umar r.a dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:


مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ


Barangsiapa yang menangguhkan hajatnya kerana al-Thayrah (ramalan buruk kerana sesuatu) maka dia telah berbuat syirik. - Hadis riwayat Imam Ahmad, no: 6748

Daripada ‘Abdullah Ibnu Mas’ud bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:


الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.


Al-Thiyarah (menyandarkan keburukan kepada sesuatu) itu syirik, al-Thiyarah itu syirik tiga kali. Dan tidak ada seoarang pun dari kita, kecuali (telah terjadi dalam dirinya pengaruh al-Thiyarah tersebut) akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal – Hadis riwayat Imam Abu Dawud, no: 3411.

Melalui hadis di atas kita dapati sedikit sebanyak setiap manusia akan berhadapan dengan perasaan tathayyur ini akan tetapi jika kita bertawakal kepada Allah dalam segala perkara yang mendatangkan manfaat dan menjauhi musibah, maka Allah akan menghilangkan perasaan tersebut dari jiwa kita. Sekiranya kita telah terjebak dalam perlakuan tathayyur ini, untuk menebusnya Rasulullah s.a.w. telah mengajar kita untuk mengucapkan:


اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.


Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan daripada-Mu dan tidak ada Tuhan selain-Mu. - Hadis riwayat Imam Ahmad, no: 6748.

Namun apa yang menyedihkan setiap kali ketibaan bulan Safar, budaya jahiliyah yang diperangi oleh Islam ini seakan-akan muncul semula. Safar adalah bulan kedua dalam kalendar hijrah dan Safar bermaksud kosong atau meninggalkan sesuatu tempat. Penamaan bulan yang kedua ini sebagai Safar adalah kerana kebiasaan orang Arab meninggalkan rumah mereka pada bulan ini bertujuan memerangi musuh-musuh dan mereka juga suka mengembara pada bulan ini. Kebanyakan orang Arab pada zaman jahiliyah beranggapan terdapat kesialan pada bulan Safar ini. Ternyata pemikiran jahiliyah ini masih diwarisi oleh segelintir kecil umat Islam pada zaman ini akibat lemahnya keimanan dalam jiwa dan kejahilan mereka terhadap ilmu tauhid. Mereka beranggapan bulan Safar merupakan bulan di mana Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. Oleh itu banyak musibah dan bencana terjadi pada bulan Safar khususnya pada hari Rabu minggu terakhir. Sesetengah umat Islam menghindarkan diri dari melakukan perjalanan pada bulan safar melainkan terdapat keperluan yang mendesak. Sebagai contohnya dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniy, penulis kitab tersebut memilih untuk menahan diri dari keluar berjalan pada bulan ini dan menasihati agar semua pengikut tarekat tersebut untuk tidak meninggalkan rumah melainkan sekiranya benar-benar perlu. Dalam kitab tersebut dikhabarkan bahawa Syaikh tarekat tersebut ‘Abdullah Faiz Daghestani berkata: “Pada hari Rabu terakhir bulan Safar, 70,000 penedritaan (bala) akan menimpa dunia. Barangsiapa yang mengekalkan adab ini yang disebut (beberapa amalan yang tertentu), dia akan dilindungi oleh Allah yang Maha Kuasa.” Bagi orang Melayu pula mereka menghindari dari melakukan majlis perkahwinan pada bulan Safar kerana dipercayai jodoh pasangan pengantin tersebut akan tidak berkekalan dan kelak akan susah untuk mendapatkan zuriat. Ada juga yang beranggapan bayi yang lahir pada bulan Safar bernasib malang dan hendaklah dijalankan satu upacara khas untuk membuang nasib malang tersebut. Kesemua ini merupakan perkara-perkara tahyul dan khurafat yang harus dibanteras sehingga ke akar umbi. Firman-Nya:

Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. – al-Taghaabun (64) : 11

Lantaran itu beberapa amalan bidaah telah dicipta sempanan bulan Safar ini untuk menghindari sebarang bentuk malapetaka yang berkaitan dengan kedatangan bulan tersebut.


MANDI SAFAR

Orang Melayu satu ketika dahulu mengamalkan Mandi Safar atau mandi beramai-ramai ditepi sungai mahupun pantai yang dianggap sebagai satu ritual untuk menolak bala pada bulan Safar serta menghapuskan dosa. Orang Melayu berarak menuju ke destinasi terpilih diiringi dengan alunan muzik, nyanyian, jampi serapah dan alunan zikir tertentu. Setelah itu mereka mambaca jampi tertentu atau menulis ayat-ayat tertentu di atas kertas lalu memasukkannya ke dalam bekas berisi air dan mandi dengannya. Sebenarnya amalan mandi Safar ini diwarisi dari budaya Hindu. Walaupun Pesta Mandi Safar ini semakin terhakis dalam umat Melayu terdapat sesetengah pihak yang melakukan pembaharuan dalam upacara ini. Maka diarahnya penulisan ayat-ayat tertentu di atas kertas atau papan dan direndam di dalam kolah ataupun tangki berisi air untuk seluruh ahli keluarga bermandi dengannya. Syaikh Muhammad ‘Abdussalam al-Syaqiry berkata:

Orang-orang awam biasa menulis ayat-ayat tertentu tentang keselamatan di atas kertas, misalnya ayat:

"Salam sejahtera kepada Nabi Nuh dalam kalangan penduduk seluruh alam! " (al-Saaffaat (37) : 79) pada hari Rabu terakhir bulan Safar, kemudian meletakkannya di dalam bekas (berisi air) untuk diminum airnya dan untuk mencari keberkatan kerana mereka berkeyakinan bahawa hal ini akan menghilangkan nasib buruk. Ini adalah keyakinan yang sama sekali salah dan harus ditentang. – Rujuk al-Sunnan wa al-Mubtada’aat al-Muta’alliqahbi al-Adzkaar wa al-Shalawaat karya Syaikh Muhammad ‘Abdussalam al-Syaqiry, edisi terjemahan dengan tajuk Bidaah-Bidaah Yang Dianggap Sunnah, Qisthi Press, Jakarta (2004), ms. 149

Upacara yang disebut oleh Syaikh Muhammad ‘Abdussalam ini biasanya dikerjakan di Masjid di antara solat Maghrib dan Isyak pada hari Rabu terakhir bulan Safar.


SOLAT SUNAT

Pada hari Rabu terakhir bulan Safar kononnya disunatkan untuk mengerjakan solat sunat empat rakaat. Waktu mengerjakannya adalah setelah terbit matahari dan sebelum masukya waktu Zuhur. Pada setiap rakaat hendaklah dibaca surah al-Fatihah sekali, surah al-Kautsar tujuh belas kali, al-Ikhlas lima kali, Surah al-Falaq dan al-Naas sekali dengan dikerjakan dengan hanya satu tahiyat. Setelah selesai solat ini hendaklah membaca doa seperti berikut:

Ya Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, wahai zat yang kerana kemuliaan-Mu semua makhluk-Mu menjadi hina. Jauhkan aku dari kejahatan makhluk-Mu. Wahai zat yang Maha Baik, Indah dan Mulia, wahai Pemberi Nikmat dan Kemuliaan, wahai Zat yang tiada Tuhan kecuali Engkau, kasihanilah aku dengan rahmat-Mu wahai zat yang Maha Pengasih. Ya Allah dengan rahsia Hassan, saudaranya, ayah, ibu dan keturunnanya, jauhkan aku dari kejahatan hari ini dan apa turun pada hari ini, wahai zat yang memenuhi segala keperluan dan penolak segala bencana. Semoga Allah menjauhkannya kerana Dia yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Semoga selawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. – Doa ini bersumber dari Risalah Rawi al-Dzam’an fi Fadhaail al-Asyhur al-Ayyam, ms. 4. Penulis nukil dari kitab al-Bida’ al-Hauliyyah karya ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz al-Tuwaijiry, edisi terjemahan dengan tajuk Ritual Bidaah Dalam Setahun, Darul Falah, Jakarta (2003), ms. 139

Ternyata tidak ada dalil yang sah menunjukkan solat suna serta bacaan doa tersebut disunatkan. Apatah dalam doa tersebut terdapat lafaz-lafaz tawassul yang dilarang oleh syarak iaitu menjadikan Hassan (r.a), Hussain (r.a), Ali (r.a), Fathimah (r.a) serta keturunan mereka sebagai perantara dalam berdoa. Allah S.W.T. memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa secara terus kepada-Nya tanpa perantaraan sebagaimana firman-Nya:

Dan Tuhan kamu berfirman: "Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. – al-Ghaafir (40) : 60


BACAAN SURAH DAN ZIKIR TERTENTU

Dalam buku al-Futuhat al-Haqqaniy pengikut tarekat tersebut diajar amalan tertentu untuk hari Rabu terakhir bulan Safar bertujuan untuk menolak bala. Di antara amalan-amalannya adalah membaca kalimah syahadah sebanyak tiga kali, beristighfar tiga ratus kali, membaca ayat al-Kursi tujuh kali, suraf al-Fiil tujuh kali dan dihadiahkan kepada diri sendiri dan juga ahli keluarga.


MEMBERI SEDEKAH

Konnonnya dianjurkan untuk memperbanyakkan sedekah pada bulan Safar bertujuan untuk menjauhkan diri dari penderitaan dan nasib malang.


BERKORBAN

Terdapat juga segelintir pihak yang beranggapan dianjurkan untuk mengerjakan ibadah korban pada tarikh 27 Safar.

Ternyata kesemua amalan yang dikhususkan sempena bulan Safar di atas tidak pernah diperintah oleh Rasulullah s.a.w. serta tiada seorang sahabat mahupun para al-Salafussoleh yang mengamalkannya. Sabda Rasulullah s.a.w.:

Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama) apa-apa yang tidak ada padanya, maka tertolaklah ia.” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 2697

Barangsiapa yang melakukan satu amal yang bukan dari suruhan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama), maka tertolaklah ia. - Hadis riwayat Imam Muslim, no: 1718

Lantaran itu hendaklah seluruh umat Islam menghindarkan diri dari melakukan amalan-amalan bidaah tersebut. Rasulullah s.a.w. telah menegaskan bahawa segala tanggapan bahawa bulan Safar adalah bulan yang penuh dengan musibah dan bencana buruk adalah tidak benar. Daripada Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:


لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ.


Tiada penyakit yang berjangkit (dengan sendiri), tiada (keburukan ataupun kesialan pada bulan) Safar dan tiada (kecelakaan yang bersangkutan dengan) burung hantu. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 5717

Dugaan bahawa bulan Safar mahupun hari Rabu terakhir bulan Safar merupakan bulan ataupun hari yang malang merupakan sebahagian dari tathayyur yang dicela oleh syarak sebagaimana yang telah dibahaskan pada bahagian awal risalah ini. Menurut Ibnu Rajab r.h:

Menganggap sial bulan Safar adalah termasuk jenis tathayyur yang dilarang, begitu juga menganggap sial sesuatu hari seperti hari Rabu dan anggapan golongan jahiliyah terhadap bulan Syawal sebegai bulan sial secara khusus untuk dalam nikah. – Dinukil dari kitab Fathul Majid : Syarah Kitab Tauhid karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hassan Alu Syaikh, edisi terjemahan bertajuk Fathul Majid Penjelasan Kitab Tauhid, Pustaka Azzam, Jakarta (2004), ms. 580

Harus kita fahami bahawa mencela waktu yang tertentu adalah seolah-olah mencela Allah S.W.T kerana semua waktu itu adalah ciptaan Allah S.W.T.. Bagi setiap waktu termasuk bulan Safar ini sekiranya dipenuhi dengan aktiviti yang bermanfaat serta amal soleh adalah termasuk dalam waktu yang baik dan penuh keberkatan. Oleh itu hendaklah bulan Safar ini dilihat seperti bulan-bulan yang lain dalam kalendar hijrah dan kita terus mengerjakan amal-amal ibadah yang disunnahkan seperti bulan-bulan lain tanpa mengkhususkan amalan tertentu yang tidak ada nas dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Hendaklah kita menghindarkan diri dari melakukan ramalan bahawa akan datang sesuatu perkara yang buruk disebabkan sesuatu perkara (tathayyur) kerana ianya termasuk dalam kategori amalan syirik. Ternyata syirik merupakan satu perbuatan yang zalim dan Allah S.W.T. tidak akan mengampunkan golongan yang mengsyirikannya melainkan bagi mereka yang bertaubat. Firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, semasa ia memberi nasihat kepadanya:" Wahai anak kesayanganku, janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar". - Luqman (31) : 13

Firman-Nya lagi:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan akan mengampunkan (dosa) selain kesalahan (syirik) bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. Sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh." – Surah al-Nisa' (4) : 116.

Syarat Penerimaan Syahadah

User Rating: / 6
PoorBest 

Ramai orang tersilap dan kerap kali tertipu oleh syaitan dan hawa nasfu mereka ketika membaca persoalan agama. Misalnya mereka tertipu apabila membaca hadis "Sabda Rasulullah yang bermaksud : “ Aku bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya aku adalah pesuruh Allah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan keduanya tanpa rasa syak pada keduanya (kalimah syahadah) itu melainkan dia memasuki al-Jannah (Syurga). ” ( Hadis riwayat Imam Muslim )

Rasulullah bersabda: “ Barang siapa yang bersaksi bahawa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah, (maka) Allah mengharamkan Neraka terhadapnya .” ( Hadis riwayat Imam Muslim )

Mereka berpendapat apabila mereka bersyahadah dan mengucapkan zikir Lailaha'Illallah maka mereka sudah Islam dan beriman kepada Allah SWT serta tidak perlu merisaukan lagi apakah mereka ahli syurga atau neraka kerana sudah dijamin oleh hadis akan masuk syurga.

Sedangkan hal tersebut adalah tidak benar berdasarkan dua Prinsip utama :

1) Syahadah tidaklah diterima (tidak Sah) melainkan syarat-syaratnya dipenuhi

2) Syahadah boleh terbatal dan perlulah diperbaharui oleh usaha gigih dan taubat serta membersihkan diri daripada perkara yang membatalkan syahadah.

- Syahadah boleh terbatal baik secara sedar atau tidak
- Syahadah boleh terbatal dan seseorang itu kemudian melakukan solat dan puasa namun semua ibadah itu ditolak kerana dia bukanlah seorang yang beriman dan diterima keIslamannya di sisi Allah SWT.

Muaaz bin Jabal Radiallahuanhu meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya, "Anak-anak kunci syurga ialah mengakui kalimah Lailahaillallah." (Hadis riwayat Imam Ahmad)

Marilah kita lihat bersama apakah syarat-syarat Sah dan penerimaan Syahadah

Daripada Abu Malik daripada ayahnya, ia telah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda: " Barang siapa yang berkata (bersaksi) – 'Tiada tuhan melainkan Allah' dan ia kufur dengan apa yang disembah selain daripada Allah, (maka) haram (terpeliharalah) harta dan darahnya. Perhitungannya adalah di atas ketentuan Allah ."
( Hadis riwayat Imam Muslim )

Ramai manusia menyangka bahawa apabila mereka sudah mengucapkan kalimah syahadah maka sudah tertunai kewajipan mereka dan sudah beriman diri mereka. Hakikatnya hal tersebut adalah tidak benar sama sekali dan ketahuilah bahawa keimanan itu tidak cukup hanya dengan lafaz syahadah dan Islam itu tidak cukup dengan hanya mengakui pada lisan.

firman Allah yang maksudnya:

"Orang-orang "A'raab" berkata: " Kami telah beriman". Katakanlah (wahai Muhammad): "Kamu belum beriman, (janganlah berkata demikian), tetapi sementara Iman belum lagi meresap masuk ke dalam hati kamu berkatalah sahaja: `kami telah Islam'. Dan (ingatlah), jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Allah tidak akan mengurangkan sedikit pun dari pahala amal-amal kamu, kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani ."
( Al-Hujurat: 14 )

Al-Imam Sahl Bin Abdullah bin Yunus at Tusturi (201 – 283 Hijrah) berkata : “ Keimanan itu apabila hanya pada perkataan seseorang tanpa amal perbuatan maka dianya menjadi kafir.” (Qawaid Fil Bayan Hakikatul Iman ms 214)

Berkata Abu Isa At-Tirmidzi (pengarang Kitab Hadis yang dikenali Sunan Tirmidzi) bahawa aku mendengar Aba Mus’ab Al-Madani berkata : “ Barangsiapa yang mengatakan Iman itu hanya pada Lisan maka hendaklah dia bertaubat jika tidak nescaya aku akan memenggal lehernya.” (Jami Tirmidzi Al-Asar no. 2622 disahihkan oleh Syeikh Albani di dalam Sahih Jami’)

Sebahagian ulama’ seperti Imam Ishaq Bin Rawaihah berkata : “Barangsiapa yang meninggalkan solat secara sengaja sehingga luput waktunya zohor sehingga maghrib dan mahgrib sehingga ke pertengahan malam maka dia sesungguhnya telah kafir kepada Allah yang Maha Agung dan diberikan peluang bertaubat selama tiga hari setelah itu dilihat apakah dia masih meninggalkannya dan jika dia masih meninggalkan solat dengan berkata meninggalkannya tidak menjadi kufur maka dipenggal lehernya adapun jika dia telah solat maka dikatakan kepadanya sekarang hukumannya termasuk persoalan ijtihad (terpulang kepada Imam kerana termasuk masalah takzir) .” (Lihat kitab Iman oleh Imam Ibnu Taimiyah ms. 241)

Imam Muhammad Abdul Wahab menyebutkan bahawa sesungguhnya Kalimah Lailahaillallah tidak memberi manfaat kepada yang mengucapkannya di sisi Allah kecuali setelah mengenal maksudnya, beramal dengannya dan membenarkannya dengan ikhlas dan yakin kerana kebanyakkan mereka yang mengucapkan kalimah ini masih sahaja menghuni di neraka yang terbawah. (Fatawa A’immah An-Najdiyah ms 190)

Firman Allah yang bermaksud : “Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman ." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', kerana iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Hujurat : 14)

Ketahuilah syarat penerimaan Iman itu ada tujuh.

Syarat yang Pertama : Mengetahui Maksud Syahadah dan Tuntutan Iman

Mengetahui maksud Kalimah Lailahaillallah pada nafi (penafian keimanan kepada tuhan selain daripada Allah) dan isbat (pengukuhan dan penegasan serta pegakuan keimanan yang jitu kepada Allah).

Firman Allah yang bermaksud : “ Maka ketahuilah, bahawa Sesungguhnya tidak ada Ilah (Tuhan) selain Allah dan mohonlah keampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Muhammad : 19)

Orang yang tidak mengetahui maksud Syahadah dan rukun Iman maka tiada faedah baginya segala kebaikan dan amalan seperti solat, puasa dan zakat kerana zikir-zikir dan ucapan mulutnya hanyalah sia-sia lantaran tidak mengetahui siapakah yang disembah oleh-Nya ? Kerana apakah dia menyembah dan beribadah ? Bagaimanakah caranya dia harus menyembah dan bagaimana menuju Allah ?

Mengetahui tentang Tauhid kepada Allah swt sangatlah penting dan cemas kerana kita diperintahkan mentauhid Allah swt dan Syahadah bermaksud menafikan ibadah kecuali hanya kepada Allah swt dan menyembah hanya kepada Allah swt oleh itu kita perlu mengetahui bagaimana dan caranya.

Tauhid Rububiyah dimiliki oleh semua manusia iaitu mengakui kewujudan pencipta dan tuhan di dalam kehidupan mereka namun tidak semua di kalangan mereka mengetahui siapakah dia tuhan itu ? Yang menjadikan dan mematikan ? Yang menjadi tempat merayu dan memohon ? Maka diutus para Rasul untuk Mengatakan tuhan itu ialah Allah supaya hamba-hamba-Nya mensyukuri rahmat dan nikmat-Nya.

Firman Allah yang bermaksud : “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu mahu dustakan?” (Ar-Rahman : 13)

Seruan Tauhid rububiyah ialah seruan “Mengajak manusia kembali merasai kehidupan bertuhan” menyeru manusia kembali kepada Allah dan menyedarkan manusia kehidupan ini wujud matlamat dan kita dijadikan oleh Allah swt, kita ialah hamba dan kesedaran diri ialah seorang hamba yang memiliki tuan dan tuhan itulah pokok kepada Tauhid rububiyah dan ianya masih belum cukup namun itulah asasnya.

Seterusnya Tauhid Asma Wal Sifat perlu diketahui pula untuk membolehkan seseorang hamba itu mengetahui siapakah tuhan-Nya. Bagaimanakah harus dia memanggil tuhan-Nya ? Bagaimanakah sifat dan sikap Tuhan-Nya agar dia mengerti cara-cara dan bagaimana akhlak dan adabnya terhadap tuhan-Nya maka disitulah datangnya maksud Tauhid Asma wal Sifat iaitu Mensifatkan Allah dan memberikan nama kepada Allah seperti yang dikehendaki-Nya, seperti yang disifatkan dirinya sendiri tanpa mengubah, menokok tambah atau merendahkan atau menyamakan sifat dan namanya dengan segala sesuatu.

Imam Abu Hanifah berkata :Ertinya :"Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir". Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan "aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi". Berkata Imam Abu Hanifah : "Sesungguhnya dia telah 'Kafir !".

Kerana Allah telah berfirman : "Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istiwaa". Yakni : Abu Hanifah telah mengkafirkan orang yang mengingkari atau tidak tahu bahwa Allah istiwaa diatas 'Arsy-Nya.

Demikianlah Islam itu tertegak dengan ilmu serta mengetahui dan bukanlah Islam itu dipeluk kerana ikutan buta dan dipeluk agama ini tanpa mengetahui sesuatu pun daripada maksud Iman dan syahadah itu. Hujah yang kukuh berkenaan hal ini tersangat banyak antaranya sabda baginda rasul : “Barangsiapa yang mati dalam keadaan Mengetahui bahawa sesungguhnya Tiada Tuhan Yang Berhak disembah Selain Allah maka dia masuk syurga.” (hadis sahih riwayat Muslim )

Barangkali ada yang berfikir jahat dan mengikut hawa nafsunya dengan berkata bukankah disuruh kita mengetahui ? Maka aku sudah pun mengetahui lalu cukuplah sudah Islam dan Iman pada diriku dengan mengambil hadis dan dalil-dalil hujah kitab dan sunnah sebagai pemuas hawa nafsu dan dijadikan hujah memesongkan manusia daripada agama.

Ketahuilah tidak cukup sekadar berilmu dan mengetahui tanpa memenuhi syarat-syarat seterusnya.

Masih banyak lagi…

Syarat yang kedua : Meyakini Iman dan Syahadah Lailahaillallah tanpa Syak dan ragu

Keyakinan yang disebutkan ialah bermaksud pegangan kukuh dan kepercayaan jitu bahawa tidak sampai dan tidak dapat dicapai syurga dan keredhaan Allah itu melainkan dengan memiliki Iman dan bersyahadah. Juga menyakini dengan pasti dan penuh kepercayaan bahawa semua yang dibawa oleh rasulullah itu benar, janji Allah itu benar, rukun iman itu benar dan mempercayainya serta menyakini kewajipan bersyahadah dan menyakini dengan pasti bahawa syahadah itu kunci kepada syurga.

Adalah menjadi kewajipan setiap muslim untuk beriman kepada Allah dengan penuh yakin, beriman kepada janji Allah dengan penuh kepercayaan dan keyakinan yang pasti bahawa semuanya itu benar dan tidak ada keraguan pada diri mereka sedikit pun.

Firman Allah yang bermaksud : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat : 15)

Tidak di anggap beriman pada mereka yang ada sikap ragu-ragu pada agama Allah swt.

Tidak yakin kepada janji Allah swt.

Keyakinan bahawa manusia kelak akan dihisab dan mempercayai kewujudan Allah dan mempercayai segala yang datang daripada Allah swt dan mempercayai dengan jitu tanpa ragu segala arahan Allah swt maka mereka itulah yang memiliki syarat yang kedua untuk diterima Iman mereka.

Golongan inilah yang disebut sebagai golongan yang memiliki sifat Ihsan iaitu beribadah kepada Allah seolah-olah mereka melihat Allah kerana menyakini kebenaran agama ini dan sekiranya mereka tidak dapat melihat Allah swt maka mereka tetap menyakini bahawa diri mereka dilihat oleh Allah swt lalu di dalam kelemahan dan kekuatan, di dalam suka atau terpaksa mereka tetap menunaikan kewajipan mereka kerana menyedari dan menyakini mereka diperhatikan oleh Tuhan Yang Maha Gagah.

Syarat yang ketiga : Penerimaan yang menyeluruh dan penyerahan yang mutlak terhadap Islam

Dimaksudkan qabul ialah menerima dan Istislam pula bermaksud penyerahan diri yang bersifat mutlak terhadap apa yang datang daripada Allah swt. Seorang Muslim itu tidaklah dianggap beriman sehingga dia menerima segala apa yang datang daripada Allah swt dan melaksanakannya serta dia wajib menyerah diri, kehidupan, masa depan, kebahagiaan, keseronokkan segala-galanya yang di akal sangkaan konon miliknya itu harus diserahkan semuanya kepada Allah swt.

Itulah kehebatan kalimah Syahadah.

Ianya menuntut sebuah kehidupan dan harganya ialah segala-galanya.

Ia merupakan kalimah yang apabila seseorang mengucapkannya dan bersaksi dengannya dan menerima kalimah tersebut menyebabkan dia sudah hilang segala-galanya kerana dia telah menyerahkan segala apa yang dimilikinya termasuk nafas dan nyawanya untuk Allah swt.

Tidaklah dianggap sebagai Muslim seseorang yang menolak apa yang datang daripada Allah swt dan tidak mahu menerimanya kerana tidak suka atau sukar menunaikan perintah yang datang.

Firman Allah swt yang bermaksud : “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeza-bezakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Al-baqarah : 285)

Dia tiada pilihan, dia harus menerima dan menyerah diri.

Ucapan yang dibenarkan untuk diucapkan oleh setiap manusia yang beriman takala datang perintah daripada Allah ialah “Kami dengar dan kami taat.”

Firman Allah swt yang bermaksud : “Sesungguhnya jawapan orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur : 51)

Apabila seseorang itu telah memenuhi syarat keimanan yang ketiga ini maka dia telah memenuhi beberapa bahagian daripada syarat keimanan itu dan perlulah dia melangkah ke syarat yang seterusnya.

Sudah menyerah diri masih belum dianggap beriman lagi ? Ya benar.

Firman Allah yang bermaksud : “Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman ." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', kerana iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Hujurat : 14)

Syarat keimanan yang ke-empat : Ketaatan dan Pelaksanaan Amal Terhadap Apa yang diPerintahkan

Tidaklah menjadi Muslim apabila seseorang itu hanya memeluk Islam di lisan kemudian tidak beramal dan tidak pula menunaikan kewajipan yang ada di dalam agama ini. Para ulama menyebut bahawa beramal itu termasuk di dalam syarat Iman dan hendaklah Iman dibuktikan bukan hanya lisan dan hati tetapi juga harus dengan amal.

Kepatuhan atau disebut al-inqiyad di dalam bahasa arab bermaksud kepatuhan dan ketaatan terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah swt dan oleh rasul-Nya. Mempercayai bahawa setiap arahan Allah itu perlu dan wajib dilaksanakan semampu yang dapat dan ianya akan dituntut serta dipersoalkan di hari akhirat.

Setiap larangan dan tegahan Allah swt perlu ditinggalkan dan mesti dijauhi dan usaha dilakukan untuk mencegah diri daripada terjebak ke dalam kemurkaan-Nya.

Adalah tidak benar menjadikan alasan tidak mampu, tidak kuat dan tidak bersedia sebagai alasan untuk tidak mentaati Allah swt dan tidak kuat sebagai alasan untuk terjebak di dalam perkara yang haram.

Allah memerintahkan kita untuk beramal dan setiap arahan itu perlu dilaksanakan.

Tidak mampu, lemah, tidak berdaya, tiada kekuatan hanya dapat dijadikan alasan setelah kita mencuba dan telah melakukannya dan telah gagal setelah mencuba dan akhirnya tewas serta terkorban di dalam usaha melaksanakan perintah tersebut dan begitulah kita diperintahkan.

Syarat yang kelima : Membenarkan dan memperjuangkan Iman dan Tuntutan Syahadah

Pada ketika ini anda sepatutnya sudah menyedari, bahawa kewajipan Islam dan Muslim itu bukanlah sekadar mengucapkan kalimah syahadah lagi, bukan hanya sekadar melaksanakan rukun iman dan rukun Islam lagi dan ketika ini anda akan memahami bahawa tuntutan syahadah itu memerlukan anda menyerahkan diri kepada Islam seluruhnya dan menerima segala perintah dan arahan yang diturunkan oleh Allah swt.

Firman Allah yang bermaksud : “Kemudian tiadalah fitnah lagi ke atas mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah." (Al-An’am : 23)

Kemudian pada peringkat yang seterusnya apa yang diperlukan sebagai syarat penerimaan Iman dan syahadah ialah Membenarkan dan memperjuangkan isi Iman dan tuntutan syahadah tersebut kepada semua manusia dan makhluk di atas muka bumi dan berusaha menegakkan kalimah Allah swt dan hukumnya serta memastikan kalimah tauhid tertegak dan tidaklah ada sekutu bagi Allah swt di atas muka bumi ini seorang pun, sedikit pun dan apa-apa jua sekutu bagi Allah haruslah dihapuskan dan menjadikan segala-galanya yang di atas muka bumi ini untuk Allah dan mentauhidkan Allah swt kerana itulah matlamat seluruh kehidupan dan matlamat agung dunia dan langit tercipta.

Firman Allah yang bermaksud : “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah : 191)

Apakah yang dimaksudkan dengan fitnah yang lebih besar daripada pembunuhan ? yang dibolehkan kita membunuh perlaku dan pembuat fitnah itu di mana-mana sahaja kita menjumpai mereka termasuk di dalam masjidil haram sekiranya mereka memulakan serangan terhadap kita ?

Jawapannya ialah syirik seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas ra (sahabat nabi), Mujahid, Hasan al-Basri, Qatadah dan Zaid bin Aslam serta banyak lagi ulama salaf yang menyebutkan kepada kita fitnah di dalam ayat ini ialah syirik.

Kita disuruh memerangi syirik.

Firman Allah yang bermaksud : “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah : 193)

Firman Allah yang bermaksud : “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfaal : 39)

Firman Allah yang bermaksud : “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu menjumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intiplah mereka ditempat pengintipan. Jika mereka bertaubat dan mendirikan solat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (At-Taubah : 5)

Agama ini memerlukan keimanan pengikutnya diuji dan dibuktikan melalui amalan dan jika tidak dilakukan ketahuilah bahawa dirimu belum beriman dan Iman mu tidak benar dan engkau masih seorang kafir.

Kafir bermaksud engkar, kafir bermaksud kufur iaitu mendustakan dan akibatnya akan menghapuskan segala kebaikan dan keimanan yang mengakibatkan kemurkaan Allah swt serta hukum dan perintah azab ditimpakan ke atas mereka yang kufur dengan Allah.
Allah memerintahkan kita memerangi syirik dan kekufuran.

Sekalipun wanita dan gadis lemah dan tak berdaya yang berjalan memakai kasut tumit tinggi demi membuatkan tubuhnya kelihatan cantik dan cara berjalannya menjadi tarikan perhatian lelaki itu tidak diwajibkan berperang dan berjihad senjata dengan lelaki namun mereka tetap diwajibkan untuk memerangi syirik di dalam kehidupan mereka.

Mereka tetap dipertanggungjawabkan untuk menegakkan tauhid di dalam kehidupan mereka, rumahtangga mereka dan mendidik anak-anak mereka untuk menjadi Muslim bukan ahli neraka dan ahli syirik dan kufur seperti mereka.

Wanita dan gadis tidak terkecuali daripada syarat penerimaan yang kelima ini iaitu Membenarkan keimanan mereka melalui tindakan dan amalan di dalam kehidupan. Mereka perlu memperjuangkan Iman dan syahadah dan membantu suami-suami mereka untuk memperjuangkan syahadah ini.

Jika suami tidak memperjuangkan syahadah ? Jika suami dan kekasih lelaki tidak membenarkan Iman dan tuntutan syahadah ?

Mereka harus berpisah dengan pasangan mereka kerana tidaklah boleh bercampur di antara lelaki kafir dan wanita mukminah sekalipun lelaki itu fizikalnya menarik perhatian.

Firman Allah swt yang bermaksud : “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (Al-Maidah : 100)

Iman dan tuntutan Syahadah mesti dibenarkan melalui ujian

Hal ini dibuktikan melalui firman Allah swt yang bermaksud :

Firman Allah swt yang bermaksud : “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Muhammad : 31)

Firman Allah swt yang bermaksud : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya : 35)

Firman Allah swt yang bermaksud : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Al-Kahfi : 7)

Allah akan menguji hamba-hamba-Nya untuk mengetahui kebenaran Iman masing-masing dan tuntutan syahadah harus dibenarkan oleh setiap Muslim melalui ujian yang menimpa diri mereka. Disebabkan itulah membenarkan Iman harus dengan mengukuhkan keyakinan di dalam jiwa sehingga sewaktu diuji dan dicuba oleh Allah swt maka orang yang beriman itu akan sabar dan teguh di dalam musibah yang menimpa diri mereka.

DI dalam hukum sesama manusia, hendaklah Iman dan syahadah dibuktikan dan dibenarkan melalui pengamalan serta keteguhan keyakinan dan hal ini dibuktikan daripada teladan rasulullah.

Rasulullah pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua'wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum dia dimerdekakan oleh tuannya iaitu Mu'awiyah dengan bermaksud : "Baginda bertanya kepada hamba perempuan tersebut : "Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan itu : "Allah Di atas langit. Baginda bertanya (lagi) : "Siapakah Aku ..?". Jawab hamba perempuan itu : "Engkau adalah Rasulullah". Baginda bersabda : "Merdekakanlah dia ! .. kerana sesungguhnya dia ialah seorang mu'minah (seorang perempuan yang beriman)". (Hadis sahih diriwayatkan oleh Malik, Muslim dan lain-lain)

Bahkan Allah sendiri menjelaskan persoalan membuktikan keImanan melalui ujian ini seperti di dalam Al-quran yang bermaksud :

Firman Allah yang bermaksud : “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu menguji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al-Mumtahanah : 10)

Syarat Keimanan yang ke-enam : Keikhlasan Iman dan Melaksanakan tuntutan Syahadah kerana Allah dan Tidak Mensyirikkan-Nya

Mengikhlaskan Iman hanya kepada Allah swt adalah merupakan usaha tertinggi di dalam agama yang disebut sebagai Tauhid. Keimanan hanya kepada Allah swt dan dilakukan setiap rukun Iman dan amalannya hanya kerana Allah demi mengharapkan balasan dan memenuhi kehendak Allah swt.

Firman Allah yang bermaksud : “Katakanlah: "Hanya Allah saja yang aku sembah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (Az-zumar : 14)

Tuntutan syahadah ditunaikan semata-mata kerana Allah swt dan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu di dalam setiap ibadah dan amalan kehidupan. Tidaklah diterima sebarang amalan, usaha dan kebajikan jika tidak memenuhi dua syarat asasi iaitu ikhlas dan mengikut syarat yang dibawa oleh Allah dan rasul.

Sangat banyak manusia menunaikan ibadah dan kebajikan kerana mahu mendekat diri kepada Allah tetapi tidak melalui jalan yang diredhai iaitu menuruti syarak dan tidak mengikut panduan rasul iaitu sunnah maka segala amalan mereka menjadi sia-sia dan rugi.
Setiap amalan yang dilakukan dengan mengikut panduan syarak iaitu kitab dan sunnah pula tidak akan diterima sehinggalah dilakukan semata-mata kerana Allah swt yang disebut sebagai ikhlas.

Ikhlas ialah sebuah proses pembersihan.

Firman Allah yang bermaksud : “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah : 129)

Membersihkan hati, lisan dan amalan kita daripada syirik kepada Allah yang bermaksud membersihkan diri dan jiwa kita daripada sekutu-sekutu dan pesaing Allah dan memastikan setiap apa yang terkeluar di hati, lisan dan dilakukan hanyalah bersih dan suci semata-mata untuk Allah swt.

Sabda rasulullah yang bermaksud : “ Manusia yang paling bahagia di hari akhirat dengan syafaatku kelak ialah yang berkata “Lailahaillallah” Ikhlas daripada hati dan dirinya.” (hadis sahih riwayat Bukhari)

Pada tangga yang ke-enam ini haruslah difahami bahawa syarat penerimaan Iman itu selepas penyerahan dan ketaatan mutlak dan berusaha membenarkan Iman dengan menegakkan tuntutan syahadah maka seorang Muslim itu haruslah mengikhlaskan setiap amal dan perbuatannya hanya kepada Allah swt dan meastikan setiap agenda kehidupannya diatur untuk memenuhi ketetapan Allah swt.

Ketika anda sampai ke fasa ini ketahuilah bahawa hidup peribadi anda yang sebelum ini telah tamat.

Bermula era baru sebagai seorang Muslim.

Pada saat ini sebagai seorang Muslim apa yang dilakukan haruslah semuanya kerana Allah swt dan dilakukan menurut apa yang termaktub di dalam Kitab dan sunnah.

Firman Allah yang bermaksud : “Dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yunus : 105)

Sejak daripada bangun pagi, pemilihan yang perlu dilakukan sepanjang hari, langkah dan perbuatan yang terhasil dan percakapan dan penuturan sepanjang hari semuanya sudah ditetapkan oleh jiwa dan diri untuk mematuhi perintah Allah swt.

Lupakah anda bahawa syarat yang sebelum ini mengehendaki anda memperjuangkan Islam ? Memperjuangkan tuntutan syahadah ? bermakna sebelum ini anda sepatutnya sudah pun sibuk berjuang, mengabung diri dengan pihak yang membenarkan janji-janji Allah dan sibuk di dalam usaha mentauhidkan agama Allah swt.

Firman Allah yang bermaksud : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah : 216)

Pada saat anda sudah berjuang dan berjihad di jalan Allah swt kerana mahu membenarkan Iman dan menegakkan tuntutan syahadah maka syarat yang ke-enam ini datang untuk menyedarkan anda bahawa segala usaha itu haruslah dilakukan dengan ikhlas kerana Allah swt.

Firman Allah yang bermaksud : “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (An-Nisa : 125)

Perlu difahami bahawa sewaktu kecamuk perperangan dan sewaktu genting jihad dilancarkan janganlah ada pihak yang membunuh dan dibunuh kerana marah dan geram, kerana mahu menjadi hero dan ketua, kerana mahu mendapatkan kemuliaan dan penghormatan sebaliknya wajib ditegaskan di dalam perjuangan dan amalan yang dilakukan bahawa segala-galanya kerana Allah swt dan harus ikhlas dan mensucikan jiwa dan diri daripada kesyirikkan.

Ketika inilah Iman itu dibuktikan melalui keIkhlasan bahawa hanya mereka yang ikhlas sahaja akan tetap dan istiqamah di atas jalan Allah yang lurus.

Ini dibuktikan melalui kisah dialog Iblis dengan Allah swt :

Firman Allah yang bermaksud : “Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan tariklah sesiapa yang kamu sanggup di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan berilah janji kepada mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga." (Al: Isra : 62-65)

Iblis ternyata akan menyesatkan manusia kecuali mereka yang dipelihara oleh Allah swt dan siapakah mereka itu ?

Mari kita lihat jawapannya di dalam ayat Allah swt itu sendiri.

Firman Allah yang bermaksud : “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahawa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka." (Al-Hijr : 39-40)

Firman Allah yang bermaksud : “Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (Ikhlas) di antara mereka.” (Shaad : 82-83)

Hanya mereka yang ikhlas terselamat daripada rencana syaitan.

Ini dibuktikan lagi di dalam Kisah Nabi Allah Yusof

Firman Allah yang bermaksud : “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu dan andaikata dia(Yusof) tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang Ikhlas.” (Yusof : 24)

Ternyata hanya mereka yang ikhlas sahaja akan terselamat daripada bencana dan perancangan Iblis yang begitu tersusun dan rapi. Lihat sahaja di dalam surah Al-Isra bagaimana Allah sifatkan bahawa Iblis itu akan menggunakan kekuatan askarnya, pasukan berkudanya yang dimaksudkan ialah kekuatan teknologi dan keilmuan serta perancangan rapi demi menyesatkan manusia. Ditaburi janji dan tipu helah dan diperdayakan dengan dunia serta isinya untuk anak-anak Adam menjadi syirik seperti Iblis dan akhirnya mengikutinya ke dalam neraka.

Sesungguhnya syahadah itu ialah kunci kepada syurga.

Kemuncak syahadah itu ialah al-wala dan al-bara dan itulah syarat seterusnya dan terakhir di dalam penerimaan Iman dan syahadah.


Syarat yang ketujuh : Mahabbah Fillah dan Bughdo FIllah yang bermaksud Mencintai dan membenci hanya kerana Allah yang di dalam istilah disebut sebagai Al-Wala Wal Al-Bara’

Pada syarat yang tertinggi dan terakhir di dalam soal penerimaan Iman dan tuntutan syahadah ini adalah mengehendaki supaya seseorang Muslim itu hendaklah mencintai Allah swt dan rasul-Nya melebihi segala-galanya yang ada dan wujud di atas muka bumi dan di seluruh alam ini.

Syarat yang tertinggi dan yang paling sukar.

Firman Allah yang bermaksud : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengambil sembahan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahawa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (nescaya mereka akan menyesal).” (Al-Baqarah : 165)

Mencintai Allah dan rasul melebihi dirinya sendiri.

Mencintai Allah dan rasul melebihi suami dan isteri serta ahli keluarganya

Mencintai Allah dan rasul melebihi ibubapanya

Mencintai Allah dan rasul melebihi harta dan segala yang dimilikinya atau melebihi apa-apa yang ada di atas muka bumi.

Cukupkah sudah sekadar itu ?

Nanti dulu….masih berbaki.

Lebih hebat daripada mengosongkan hati kemudian mencintai melebihi diri sendiri ialah seseorang itu haruslah pula menjadikan dirinya hanya mencintai dan menyukai kerana disebabkan oleh Allah dan rasul dan hanya membenci kerana disebabkan oleh Allah dan rasul.

Membenci dan mencintai kerana menurut kehendak Allah swt.

Inilah darjat tertinggi dan merupakan syarat terakhir yang perlu dimiliki oleh seseorang manusia sebelum dia menjadi beriman dan sah keIslamannya.

Jiwanya sudah menjadi milik Allah swt.

Firman Allah yang bermaksud : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali-Imran : 92)

Cinta dan benci kerana Allah swt.

Sabda rasulullah yang bermaksud : “Tali iman yang paling kukuh ialah Mencintai kerana Allah dan Membenci kerana Allah.” (hadis sahih riwayat Ahmad)

Daripada Abu Hurairah R.A, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Demi jiwaku berada di tangannya, tidaklah beriman seseorang kamu sehingga aku dikasihi olehnya lebih daripada ayah dan anaknya.” (Hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Cinta dan kasih hanya kerana diperintahkan oleh Allah swt.

Sabda rasulullah yang bermaksud : "Tiga perkara yang barangsiapa terdapat (ketiga-tiga perkara itu) padanya nescaya dia memperolehi kemanisan iman iaitu Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dia cintai daripada segala-galanya, dan dia mencintai seseorang semata-mata kerana Allah dan tidak mencintai melainkan kerana Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran selepas diselamatkan Allah sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api". (hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Apakah cukup sudah keimanan dengan hanya mencintai ? Jawapannya sudah pasti tidak kerana bagaimana pula dengan benci ?

Membenci hanya kerana Allah swt

Sabda rasulullah yang bermaksud : “Tali iman yang paling kukuh ialah Mencintai kerana Allah dan Membenci kerana Allah.” (hadis sahih riwayat Ahmad)

Bermaksud membenci syirik dan taghut itu ialah dia melawan dan menghancurkan kesyirikkan itu dengan hati, lisan dan tangannya.

Firman Allah swt yang bermaksud : “Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya dia telah berpegang kepada ikatan tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah : 256)

Dimaksudkan benci ialah dia wajib mengingkari taghut itu, dia wajib menyalahi mereka dan memisahkan diri daripada taghut, syirik dan kekufuran dan mesti memastikan jalan kehidupan yang dilaluinya menyalahi serta menyelisih dengan kekufuran dan musuh-musuh Allah swt dan membencinya sebenci-bencinya.

Imam Muhammad Abd Wahab telah menyebutkan bahawa awal perkara yang diperintahkan oleh Allah kepada anak Adam ialah kufur kepada taghut dan segala yang menjadi sekutu kepada Allah.

Firman Allah swt yang bermaksud : “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl : 36)

Bahkan pada kalimah syahadah itu sendiri dimulai dengan penafian dan kekufuran terhadap taghut pada ucapan “Lailah” iaitu yang bermaksud tiada Ilah (penafian kepada semua ketaatan, sembahan dan sekutu bagi Allah).

Lihatlah pengajaran yang ditunjukkan oleh Allah melalui kisah Nabi Allah Ibrahim.

Firman Allah yang bermaksud : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah sahaja." (Al-Mumtahanah : 4)

Kerana itulah disebut di dalam syarat terakhir keimanan kepada Allah dan pelengkap kepada Kesahihan Iman dan kebenaran Syahadah ialah Meninctai dan membenci kerana Allah swt.

Imam Muhammad Abd Wahab menyebutkan bahawa tidaklah diterima Iman seseorang sehinggalah dia memusuhi taghut dan menyisih serta mengkufuri taghut dan kekufuran serta kesyirikkan. (Majmuat Tauhid ms 330)

Maka berkata pula Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah ra : “Thaghut itu setiap yang diagungkan tanpa kerana ketaatan kepada Allah dan rasulnya baik daripada manusia atau syaitan atau pun daripada berhala.” (Jami Rasail dengan tahqiq m/s 373 Jilid 2)

Di dalam membicarakan hal ini maka para ulama menyebutkan bahawa taghut ini tersangatlah banyak namun ianya dapat disimpulkan kepada lima kepala dan ketua kerana seperti maksud Syeikh Muhammad Abd Wahab ra : “Thaghut ini ialah umum maka setiap sesuatu yang disembah selain daripada Allah swt itu dan redha kepadanya bermaksud taghut…”

Syaitan

Dinyatakan di dalam Al-Qur’an bahawa Syaitan itu termasuk ketua thaghut (melampaui batas) yang sentiasa mengajak manusia menyembah selain daripada Allah swt dan merekalah yang menyesatkan anak-anak Adam sehingga mengambil taghut sebagai tuhan selain daripada Allah swt.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya :

Firman Allah swt yang bermaksud : “Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari syurga, dia menanggalkan dari keduanya pakaian mereka untuk memperlihatkan kepada keduanya 'aurat mereka. Sesungguhnya dia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak mampu pula melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raaf : 27)

Pemerintah Zalim yang Tidak Berhukum dengan Hukum Allah

Hal ini suatu yang jelas di sisi para ulama’ Islam sejak berzaman dan mereka telah pun bangun menyatakan kebenaran malangnya hari ini umat Islam lantaran takut kepada pemerintah dan kuasa yang ada di sisi pemimpin yang thaghut tunduk dan akur sambil menyembunyikan ketakutan mereka dengan beberapa patah dalil yang menyuruh mentaati pemerintah tanpa berani membicara lanjut di dalam persoalan tersebut.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya :

Firman Allah swt yang bermaksud : “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. kerana itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan oleh Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah : 44)

Apa-apa yang ditaati dan dijadikan Hukum yang bukan daripada Allah dan rasulnya

Segala sesuatu yang ditaati oleh manusia baik sistem, budaya dan adat atau perundangan yang menguasai dan mengatur hidup manusia yang bukan diturunkan oleh Allah swt dan juga bukan disampaikan oleh baginda rasulullah maka ianya merupakan salah satu di antara apa yang di sebut sebagai taghut oleh para ahli ilmu Islam.

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahawasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah : 45)

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya : “Orang-orang yang beriman itu berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisa : 60)

Pada hari ini manusia semuanya tunduk kepada sistem ekonomi riba, perundangan kuffar berasaskan keputusan mahkamah lama Britain, percaturan politik barat, ketetapan itu dan ini serta peraturan yang dipakaikan kepada tengkuk manusia keldai yang hidup demi sesuap pagutan rumput kertas yang bercopkan gambar-gambar pemerintah maka apakah hukumnya menjadi mereka yang mentaati apa-apa yang bukan daripada Allah dan rasul ?

Mereka yang Mengaku Mengetahui Ilmu Ghaib Tanpa dari Kitab dan Sunnah

Golongan yang mengaku sebagai mengetahui perkara ghaib dan boleh menyembuhkan sakit, mengetahui di manakah letaknya barang yang hilang, serta dapat menunjukkan siapakah yang mencuri dan mengambil barang orang-orang serta pelbagai lagi hal yang berkait sihir dan ilmu ghaib tanpa pertunjuk dan dalil daripada kitab dan sunnah ialah salah satu di antara kepala-kepala thaghut.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya :“(Dia adalah Tuhan) Yang mengetahui hal yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diredhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Jin : 26-27)

Pada hari ini, para ahli sihir dan golongan yang mengaku mengetahui hal yang ghaib tidak lagi seperti Hamman pembantu Firaun yang berjampi serapah atau seperti datuk-datuk dukun yang bertasbih besar bersila menyembuhkan sakit demam dan menjenguk (melihat) geluk jampi seperti gaya cerita Nujum Pak belalang rekaan P. Ramlee sebaliknya para thaghut hari ini yang mengaku mengetahui kisah-kisah yang ghaib ialah para saintis dan ahli teknologi dan kemodenan yang berpakaian kot dan sut-sut mewah dengan bertali leher sambil mengaku mengetahui apa sahaja dan boleh menjelaskan apa sahaja secara rasional yang berlaku di alam ini.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya : “ Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (As-Syura: 52)

Mereka mengatakan itu dan ini berdasarkan teori-teori dari makmal mereka lalu kemudian menjangka hujan dan cuaca di mana-mana sahaja pelusuk bumi. Mereka juga mampu menciptakan klon dan genetik baru lalu mendakwa berjaya menciptakan manusia dan boleh mengubah suai segala ciptaan Allah swt menurut kehendak mereka.

Golongan inilah yang mengatakan manusia berasal daripada kera dan mawas menurut teori evolusi mereka.

Puak ini juga berfahaman atheis yang tidak mempercayai tuhan lantaran mengaku hampir mengetahui setiap perkara di dunia ini. Mereka menjelaskan fenomena ketakutan sebagai reaksi tidak balas saraf dan otak dan imej negative di dalam mata sebagai apa yang melajukan gerak jantung dan pelbagai lagi teori mereka mengambarkan kebodohan mereka terhadap kebesaran Allah swt sebagai tuhan yang Maha Pencipta.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya esok dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengerti.” (Luqman : 34)

Golongan Yang Menyembah Selain daripada Allah swt

Tidak ada sesiapa pun yang lebih malang daripada mereka yang kerugian di dunia dan juga di akhirat dan mereka ini ialah golongan yang menyembah selain daripada Allah swt lalu kehinaan menjadi milik mereka di dunia dan di akhirat. Di akhirat kelak apa-apa yang telah disembah oleh golongan yang malang ini akan berlepas diri daripada mereka.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya : “Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman ke atas mereka; "Ya Tuhan Kami, mereka Inilah orang-orang yang Kami sesatkan itu; Kami telah menyesatkan mereka sebagaimana Kami (sendiri) sesat, Kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami". (Al-Qasas : 63)

Termasuk mereka ini sebahagian daripada kepala-kepala thaghut apabila mereka menyembah selain daripada Allah swt dan mengambil sesuatu selain daripada Allah sebagai sembahan mereka dan mentaatinya baik secara sukarela atau pun kerana dipaksa.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya : “Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain daripada Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah); "Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?". (Furqan : 17)

Firman Allah swt yang bermaksud : “Mereka (yang disembah itu) menjawab: "Maha suci Engkau, tidaklah patut bagi Kami mengambil selain Engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa". (Al-Furqan : 18)

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya : “ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat engkar.” (Az-Zumar : 3)

Sebahagian yang lain pula mungkin akan mengatakan kami tidak pun menyembah sesiapa pun, sebaliknya kami tunduk dan ruku’ serta patuh kepada peraturan yang sudah dipakaikan ke tengkuk kami sebelum kami lahir yang telah dipegang oleh orang-orang tua kami. Kami ditanamkan mesti patuh kepada sistem yang ada demi menjaga keharmonian masyarakat, demi kemakmuran dan demi keselesaan serta kebaikan itu ialah apa yang telah diajarkan kepada kami.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya :“ (Kepada Malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah.” (As-Shoffat : 22)

Di atas nama disiplin seorang bawahan dibasuh supaya mentaati orang atasan tanpa persoalan dan di atas nama keselamatan dan keharmonian maka rakyat dipupuk mengikuti peraturan yang telah ditetapkan kepada mereka manakala pihak atasan dan orang-orang yang berkuasa berlumba-lumba menyamun dan merompak serta melanggar segala batasan dan had demi kepuasan hawa nafsu mereka lalu menjadilah mereka sebagai thaghut yang tersenarai di dalam kitab Allah swt.

Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an dengan maksudnya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dipersoalkan.” (Al-Israa : 36)

Firman Allah yang bermaksud : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. kerana itu Barangsiapa yang engkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya dia telah berpegang kepada ikatan tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah : 256)

Penyisihan dan kebencian mutlak terhadap taghut dan syirik ialah apa yang disebut sebagai bara’ah iaitu melepaskan diri daripada perkara yang dibenci oleh Allah swt dan menjauhkan diri daripada mereka inilah sikap yang perlu dimiliki oleh mereka yang beriman.

Surah At-Taubah atau yang juga dikenali sebagai surah Bara’ah (surah perlepasan diri) turun berkenaan isu ini iaitu pengisytiharan bahawa Allah dan rasul berlepas diri daripada orang-orang yang musyrik (melakukan syirik dan kafir) terhadap Allah swt.

Firman Allah yang bermaksud : “(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).” (At-Taubah : 1)

Pengisytiharan ini dilengkapi dengan seruan perang terhadap mereka pada ayat yang kelima di dalam Surah At-Taubah :

Pengumuman perang terhadap musyrikin

Firman Allah yang bermaksud : “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan solat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (At-Taubah : 5)

Hal ini menjelaskan bahawa orang-orang yang musyrikin itu harus tunduk kepada kekuasaan Islam dengan menjadi ahli zimmi yang membayar cukai dan mematuhi hukum Islam atau mereka diperangi dan dibunuh sehingga tiadalah yang berkuasa dan memerintah di dunia ini kecuali dengan kehendak Allah swt.


Jawablah kepada mereka dengan Firman Allah yang bermaksud : “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahawa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Ali-Imran : 178)

Ingatlah takala Allah befirman yang bermaksud “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? "Iaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahawa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan-Nya, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian pun bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al-Kahfi : 103-105)

Akhir kata,

Firman Allah yang bermaksud : (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Al-Baqarah : 286)

Benteng Umum Menghadapi Gangguan Syaiton dan Sihir

User Rating: / 10
PoorBest 

Oleh: el.ilmy
Sumber: http://el-ilmy.net/

Benteng Umum

Ada pun, benteng umum untuk mengelakkan gangguan dan kejahatan syaitan ialah dengan memelihara Iman. Sentiasalah memperbaiki keimanan kita dari hari ke sehari. Sebagai manusia biasa, Iman kita ada naik dan ada turunnya. Maka adalah penting untuk kita mempraktikkan larangan-larangan dan suruhan-suruhan Rasulullah صلى الله عله وسلم untuk memelihara diri daripada kejahatan syaitan.

Larangan dan Suruhan bagi Memelihara Diri Daripada Kejahatan Syaitan

1. Mengambil berat tentang solat berjemaah
Mengambil berat tentang solat berjemaah akan menjadikan seseorang muslim bebas serta aman dari gangguan syaitan. Bersikap sambil lewa terhadap solat berjemaah menyebabkan syaitan akan mengambil peluang untuk mendampingi mereka. Apabila selalu berdampingan, lama-kelamaan ia akan berjaya merasuk, menyihir atau melakukan kejahatan lain.

Mengikut riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah صلى الله عله وسلم telah bersabda, ertinya:

“Mana-mana kampung mahupun kawasan-kawasan hulu yang tidak mendirikan solat berjemaah meskipun penduduknya cuma tiga orang, nescaya akan didampingi oleh syaitan. Oleh itu hendaklah dirikan solat berjemaah. Sesungguhnya serigala akan memakan kambing-kambing yang menyendiri dari puaknya.” (Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang baik).


2. Menyebut nama Allah apabila masuk ke rumah dan apabila makan
Imam Muslim meriwayatkan di dalam Sahihnya, sebuah hadith dari Jabir bin Abdullah RA, beliau pernah mendengar Nabi Muhammad صلى الله عله وسلم bersabda, maksudnya:

“Apabila seorang lelaki memasuki rumahnya, lalu dia menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, syaitan akan berkata kepada teman-temannya, ‘Tidak ada tempat penginapan dan makan malam untuk kalian.’ Jika dia memasuki rumahnya tanpa menyebut nama Allah, syaitan akan berkata (kepada saudara-saudaranya), ‘Kalian boleh ikut menginap di dalamnya malam ini.’ Dan ketika makan, dia tidak menyebut nama Allah, syaitan berkata, ‘Kalian boleh ikut menyantap makan malam.’”


3. Membaca doa perlindungan apabila masuk ke tandas
Terdapat hadith daripada Anas bin Malik RA, beliau berkata, apabila Nabi Muhammad صلى الله عله وسلم memasuki tandas, baginda mengucapkan:

Ertinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari jin kafir (syaitan) betina dan syaitan jantan.” (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)


4. Berwuduk sebelum tidur
Disebutkan sebuah hadith, bahawa Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda kepada Bara` bin Azib RA, maksudnya:

“Apabila kamu hendak mendatangi tempat tidurmu, berwuduklah sebagaimana kamu berwuduk untuk melakukan solat.” (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)


5. Membaca Ayat Kursi sebelum tidur
Dalam satu hadith yang panjang, diringkaskan di sini, bahawa Abu Hurairah RA menceritakan beliau telah didatangi seorang pencuri yang mencuri hasil kutipan zakat yang dijaganya sebanyak tiga kali, sedangkan telah dua kali diberi amaran dan dia telah berjanji tidak akan datang mencuri hasil kutipan zakat itu lagi.

Untuk kali ke tiganya, dia berkata “Lepaskanlah saya, saya akan mengajarkan beberapa kalimat semoga Allah memberikan manfaat untukmu dengan kalimat ini.” Beliau pun bertanya tentang doa itu. Dia berkata, “Jika kamu berbaring di perbaringan, bacalah ayat kursi, kerana dengan begitu, Allah akan sentiasa menjagamu dan syaitan tidak akan mendekatimu hingga pagi harinya.”

Maka beliau pun melepaskannya sekali lagi. Pagi esoknya, Rasulullah صلى الله عله وسلم bertanyakan akan hal tahanannya lagi, lalu Abu Hurairah RA menceritakannya. Lalu baginda bersabda, “Mahkluk itu telah berkata benar kepadamu, sedangkan ia adalah si pendusta. Wahai Abu Hurairah, tahukah kamu siapa yang kamu ajak bicara sejak tiga hari yang lalu itu?” Beliau menjawab, “Tidak“. Baginda bersabda, “Ia adalah syaitan. ” (Hadith Riwayat Bukhari dengan ta’liq)

6. Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas kemudian sapu seluruh badan sebelum tidur
Satu hadith daripada Aishah RA, mengatakan, bahawa apabila Rasulullah صلى الله عله وسلم berbaring di perbaringan baginda pada malam hari, baginda menyatukan kedua telapak tangan baginda lalu baginda meniup keduanya dan membacakan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Kemudian baginda mengusap tubuh baginda yang mampu diusap dengan kedua tangannya. Baginda mulai dari kepala, wajah, dan bahagian muka tubuhnya. Baginda melakukan hal itu tiga kali.“ (Hadith sahih Bukhari, riwayat Aishah RA)

7. Tutup mulut apabila menguap
Dalam satu hadith, Abu Said Al-Khudri RA berkata, bahawa Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda, maksudnya:

“Apabila salah seorang di antara kamu menguap, hendaklah dia menutup mulutnya dengan tangan, kerana syaiton akan masuk.” (Hadith Riwayat Imam Muslim dan Ad-Damiri)


8. Bersihkan hidung jika terjaga tengah malam
Abu Hurairah RA berkata, bahawa Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda, maksudnya:

“Apabila salah seorang di antara kamu terbangun dari mimpinya, hendaklah dia melakukan istintsar tiga kali, kerana syaitan bermalam pada hidungnya.” (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)


Istintsar ialah perbuatan menyedut air ke dalam hidung, kemudian menghembusnya keluar, seperti ketika berwuduk. Hikmah lain istintsar ialah ia merupakan satu penawar bagi penyakit resdung. Amalkanlah selalu, contohnya selepas keluar ke kawasan kotor berdebu seperti di jalan raya.

9. Mendirikan Solat Tahajjud
Apabila seseorang tidur, lalu bangun di pagi harinya tanpa sedikit pun qiyamullail, syaitan akan semakin dekat menguasainya. Dari Abdullah bin Masud RA, dia berkata,

“Pernah disebutkan kepada Rasulullah صلى الله عله وسلم seorang lelaki yang tidur semalam penuh hingga bangun di pagi harinya, maka baginda bersabda: ‘Itu adalah orang yang kedua telinganya (atau satu telinganya) telah dikencingi syaitan.’” (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)


10. Tutup rumah dan tahan anak-anak menjelang Maghrib
Dalam satu hadith marfu’ yang meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah RA, katanya;

“Janganlah kalian biarkan unta, lembu, kambing dan yang sejenisnya, serta anak-anak kalian masih berkeliaran di luar rumah ketika matahari terbenam hingga kabut malam (waktu Isya’) menghilang; kerana syaitan-syaitan bertebaran ketika matahari terbenam, hingga kabut malam menghilang.” (Hadith Riwayat Muslim)

11. Jangan kencing pada lubang-lubang
Imam Nasa’i meriwayatkan dari Qatadah, dari Abdullah bin Sirjis, katanya Nabi Muhammad صلى الله عله وسلم bersabda, maksudnya;

“Janganlah salah seorang di antara kaluan kencing pada lubang-lubang.” Mereka bertanya kepada Qatadah, “Mengapa kita dimakhruhkan untuk kencing pada lubang-lubang?” Dia menjawab, “Kerana lubang-lubang merupakan tempat tinggal jin.” (Hadith Riwayat Abu Dawud, An-Nasa’i dan Imam Ahmad)

12. Mengingat Allah setiap waktu dan keadaan
Dalam satu hadith, Rasulullah صلى الله عله وسلم pernah bersabda yang maksudnya;

“Dan aku memerintahkan kalian untuk mengingat Allah kerana perumpamaan mengenai hal itu seperti seorang lelaki yang dikejar oleh musuh-musuhnya hingga ia sampai di sebuah benteng kukuh yang melindungi dirinya dari mereka. Sama halnya dengan seorang hamba tidak akan dapat menjaga dirinya dari syaitan kecuali dengan mengingat Allah (berzikir kepada Allah).” (Hadith Riwayat At-Tirmidzi)

13. Mengingat Allah ketika bangun tidur
Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata, Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda, maksudnya;

“Jika seseorang dari kalian tidur, maka syaitan membuat tiga ikatan pada lehernya yang dilakukan padamu sepanjang malam tidurmu. Maka tidurlah, dan jika kamu terbangun, sebutlah/ingatlah Allah, maka satu ikatan akan terlepas. Kemudian jika kamu berwuduk, maka akan terlepas satu ikatan, dan kemudian jika kamu melaksanakan solat, maka akan terlepas satu ikatan lagi hingga ia memulakan paginya dengan semangat dan jiwa yang bersih. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan dalam keadaan malas.”(Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)


14. Mengingat Allah ketika keluar rumah
Dari Anas bin Malik RA, beliau berkata, Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda, maksudnya;

“Barangsiapa yang ketika akan keluar rumah mengucapkan; bismillahi tawakkaltu alalloh la haula wa la quwwata illa billah (dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali kekuatan Allah), maka kepadanya akan dikatakan cukuplah bagimu, kamu telah dijaga dan syaitan telah menjauh darimu.” (Hadith Riwayat At-Tirmidzi)


15. Mengingat Allah ketika masuk masjid
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA, dari Nabi Muhammad صلى الله عله وسلم bahawa ketika akan masuk masjid, baginda mengucapkan, “A’udzu billahil-azhim wa bi wajhihil-karim wa sultonihil-qodimminassyaithonirrojim (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang mulia dan dengan kekuasaan-Nya yang qodim dari syaitan yang terkutuk.” Beliau berkata, “Itu saja?” Baginda berkata, “Ya, jika seseorang mengucapkan ini, maka syaitan akan berkata ‘Ia telah dijaga dariku sepanjang hari’. ” (Hadith Riwayat Abu Dawud)

16. Merapatkan saf solat berjemaah
Ibnu Umar berkata, bahawa Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda maksudnya;

“Luruskan barisan dan rapatkan bahu-bahu di antara kamu, dan lembutkan badan kamu untuk saudara yang di sebelah kamu. Jangan tinggalkan ruang kosong untuk syaitan mengambil tempat. Sesiapa yang merapatkan saf, maka Allah akan bersama dengannya dan siapa yang memutuskan saf, maka Allah akan putuskan hubungan dengannya.” (Hadith Riwayat Abu Dawud)


17. Mengingat Allah ketika menanggalkan pakaian
Dari Anas RA, beliau berkata bahawa Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda maksudnya;

“Penghalang antara pandangan syaitan dan aurat anak cucu Adam adalah, apabila ia menanggalkan pakaiannya, mereka mengucapkan bismillah.” (Hadith Riwayat At-Thabarani)


Adalah penting membaca doa menanggalkan pakaian kerana banyak kes terjadi di mana jin telah tergoda dengan manusia dan menaruh cintanya kepada manusia itu hingga membawa mudarat kepadanya. Doa menanggalkan pakaian:


Ertinya: Dengan nama Allah yang tiada tuhan selain dari Dia.


18. Mengingat Allah ketika akan berhubungan suami isteri
Dari Abdullah bin Abbas RA, ia mengatakan, bahawa Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda maksudnya;

“Jika salah seorang dari kalian ingin menggauli isterinya, hendaklah ia mengucapkan ‘Allahumma janibnassyaiton wa jannibissyaiton ma rozaqtana’ (Ya Allah ya Tuhan kami, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang telah Engkau berkan kepada kami). Jika Allah menakdirkan kepada keduanya seorang anak (dari hubungan itu), maka anak tersebut akan terhindar dari syaitan selamanya.” (Hadith Riwayat Bukhari)


19. Makan Tamar ‘Ajwah dan Tamar Madinah
Buah Tamar atau Kurma mempunyai pelbagai khasiat. Bagi Tamar ‘Ajwah dan Tamar Madinah, Rasulullah صلى الله عله وسلم pernah bersabda yang maksudnya;

“Barangsiapa yang memakan tujuh biji kurma Madinah setiap paginya, maka pada hari itu ia tidak akan dibahayakan oleh racun mahupun sihir.” (Hadith Riwayat Bukhari)

20. Mengelakkan pintu-pintu kemasukan jin dan syaitan
Daripada penceritaan para pengamal perubatan Islam, terdapat empat pintu utama yang ditunggu-tunggu oleh jin dan syaiton untuk merasuki manusia. Empat pintu itu ialah:

  • Terlalu marah
  • Terlalu gembira/ seronok/ leka
  • Terlalu dukacita
  • Terlalu syahwat


Selain itu, syaitan mudah menghasut manusia apabila ia dalam keadaan kenyang, terlalu sayangkan harta dunia, melakukan sesuatu dalam keadaan tergesa-gesa, terdetik di dalam hati perasaan hasad dengki dan lain-lain lagi. Sebenarnya banyak lagi pintu masuknya syaitan jika dikaji secara terperinci. Untuk itu, adalah lebih baik untuk sentiasa membentengi diri dengan dzikrullah (mengingati Allah) setiap masa dan jauhilah sifat-sifat tercela.

Zikir terbaik melemahkan kejahatan syaitan

Disebut dalam Sahih Muslim, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah صلى الله عله وسلم bersabda (maksudnya): Sesiapa yang membaca:



(“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.”)

dalam sehari sebanyak seratus kali, nescaya dia mendapat pahala sebagaimana memerdekakan sepuluh orang hamba. Dia juga diampunkan seratus kejahatan, dibuat untuknya benteng sebagai pelindung dari syaitan pada hari tersebut hingga ke petang. Tidak diganjarkan kepada orang lain lebih baik daripadanya kecuali orang tersebut melakukan amalan lebih banyak daripadanya. Manakala mereka yang berkata: (“Maha Suci Allah, aku memujiNya”) dalam sehari sebanyak seratus kali nescaya terhapuslah segala dosanya sekalipun dosanya itu banyak seperti buih di lautan.

Zikir juga sebenarnya adalah satu latihan untuk memupuk diri sentiasa mengingati Allah s.wt dalam setiap ketika. Apabila mulut sentiasa mengucapkan zikir, hati lebih mudah mengingati Allah s.w.t di saat seseorang itu sendang marah, kecewa, sedih dan ketakutan. Cubalah menjadikan zikir sebagai ‘makanan’ kepada rohani kita setiap ketika. Contohnya, ketika memandu ke tempat kerja, ketika makan, berjalan, menggosok baju, memasak dan sebagainya. Jika ketika itu ada sesuatu perkara yang boleh menyebabkan hati kita mempunyai perasaan negatif, insyaAllah zikir itu dapat menundukkannya. Contohnya dalam keadaan kesesakan jalanraya..hiburkanlah hati kita dengan melagukan zikir di bibir. Sama-samalah kita membudayakan zikrulloh di dalam kehidupan seharian kita…

Saya temui satu buku yang baik dalam memantapkan pertahanan diri daripada kejahatan syaitan iaitu buku Benteng Ghaib: Bagaimana Melindungi Hati Dari Godaan Setan, versi terjemahan tulisan Sheikh Wahid Abdussalam Bali yang tajuk asalnya ialah Widayatul Insan Minal Jinni Wassyaithon. Buku terbitan Aqwam ini dijual dengan harga RM33.50, boleh didapati di Fajar Ilmu Baru Ent, Wisma Yakin, Jln Masjid India.

Banyak panduan berguna mengikut sunnah dan pendedahan sikap serta amalan yang kadang-kadang kita terlepas pandang, sedangkan sebenarnya ia mengundang kesukaan syaitan terhadap kita. Contohnya, angan-angan, buruk sangka, boros, membazir dan macam-macam lagi.

Semoga perkongsian ini memberi manfaat kepada semua pembaca. Mohon maaf dan sekian terima kasih.

You are here: Artikel View Aqidah